Sabtu, 02 Februari 2019

Ada Bahagia di Kala Macet

Liburan sekolah yang panjang apalagi bertepatan dengan libur lebaran membuat hampir semua ruas jalan macet. Tempat wisata banyak diserbu turis lokal yang ingin menghabiskan waktunya bersantai dan mencari sekedar udara segar.
Hari minggu di awal Juli ini menjadi pilihan kami untuk sekedar melepas penat dan berekreasi di lokawisata terdekat. Cukup dengan naik sepeda motor dan berkonvoi membuat anak-anak senang. Berenang di air dangkal dengan anak-anak sambil bercengkerama terasa lega. Makan pecel dan minum es teh terasa luar biasa. Sekedar membeli balon buat si kecil sudah membuatnya gembira. Pernak-pernik gelang tidak mahal cukup membuat anak-anak perempuanku sumringah. Tak harus mahal dan semua tampak bahagia.
Pulang dari tempat wisata pegunungan Baturraden yang disemuti pengunjung hari itu, terasa melelahkan. Kami menuruni jalan yang cukup melelahkan diantara himpitan mobil yang merapat bak kumpulan semut yang hendak pindah tempat. Kami berusaha mencari celah diantara mobil-mobil yang berderet rapi tak bisa bergerak. Karena kelelahan sehabis berenang, mataku tak bisa tertahan lagi untuk mengendarai dengan baik. Aku memutuskan untuk menghentikan sepeda motorku dan keluar dari kemacetan. Aku memilih berhenti di depan sebuah rumah yang tampak tak berpenghuni. Di depan rumah tersebut digelar sebuah lapak penjual buah, jeruk dan jambu air. Lelaki penjual itu tampak melamun menatap deretan mobil yang memanjang seperti ular sambil menunggui dagangannya. Tak ada satupun diantara mereka yang membeli buahnya.
Istriku memutuskan untuk membeli sekedar untuk melariskan dagangannya. Tak seberapa banyak yang dibeli tapi cukuplah untuk kami makan sambil beristirahat dan membuat mataku melek lagi. Si penjual tampak senang ketika kami berkomentar kalau jambunya manis dan segar.
Tak lama kemudian, sebuah mobil menepikan kendaraannya tepat di sebelah penjual jambu tadi. Dua orang ibu keluar dari dalam mobil dan langsung menghampiri penjual jambu. Setelah tawar menawar dan cicip mencicip, transaksi pun terjadi. Sebelum berlalu, ada sepeda motor lagi berhenti dan membeli jambunya. Pedagang tampak sibuk. Beberapa mobil yang berhenti menunggu lallulintas melaju ada juga yang akhirnya menepikan mobilnya dan membeli jambu. Penjual tampak kerepotan namun senang. Banyak yang berhenti dan membeli jambunya. Sampai jambu yang kami belipun habis dimakan dan pada saat kami hendak pulang pun masih ada pembeli yang datang. Alhamdulillah. Kami sungguh merasa bahagia melihat pemandangan ini. Sungguh kebahagiaan yang luar biasa. From Home with Love #2
Previous Post
Next Post

An English teacher of SMA Puhua Purwokerto who wants to share every moment in life.

0 comments: