Rabu, 16 Juni 2021

Memaknai Pancasila Sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab







Dalam memaknai Pancasila sila kedua, saya akan sedikit merefleksikan beberapa peristiwa yang kerap terjadi di sekitar kita dari sebelum NKRI terbentuk hingga sekarang. Banyak peristiwa yang sudah terjadi dan hendaknya menjadi bahan perenungan kita bahwa masih banyak kejadian yang terlepas dari rambu-rambu yang diamanatkan dalam sila kedua Pancasila yaitu 'Kemanusiaan yang adil dan beradab.'

Semenjak wilayah nusantara ini masih dalam bentuk kerajaan-kerajaan, begitu banyak peristiwa yang mengorbankan jiwa akibat keegoan dan arogansi kepemimpinan pada masa itu di setiap kerajaan dalam memperebutkan wilayah masing-masing. Perang perebutan wilayah kekuasaan antarkerajaan dan bahkan perang saudara terjadi di mana-mana, katakanlah dari jaman Majapahit hingga jaman Mataram Islam dan seterusnya. Nilai-nilai kemanusiaan terasa lebih rendah dari sekedar kekuasaan, politik, dan kepentingan. Belum lagi munculnya para penjajah mancanegara yang bercokol di bumi nusantara dan ingin mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya. Korban masyarakat pribumi nusantara akibat penjajahan tidaklah sedikit dari peperangan hingga kerja paksa dan tanam paksa.

Setelah Indonesia merdeka pun masih kita catat banyak terjadi pemberontakan yang selalu berusaha untuk merobohkan pemerintahan Indonesia yang sah dan tentunya menimbulkan korban yang tidak sedikit. Penganiayaan terhadap saudara sendiri terjadi di mana-mana hanya karena berbeda paham atau organisasi. Dan puncaknya yaitu pada tahun 1965 terjadi pergerakan yang menyayat hati yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. 

Sekarang, di jaman yang sudah bisa dikatakan damai dari peperangan, masih pula sering terdengar pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang sering kita dengar di sekitar kita. Berita-berita tentang penindasan, kekejaman, perselisihan antar kelompok, tawuran, pembunuhan masih sering terjadi. Bahkan kasus demi kasus penistaan melalui sosial media sering terjadi pula di jaman yang sudah demikian modern dan damai ini dan tentunya berlawanan dengan makna sila kemanusiaan yang adil dan beradab.

Lalu, bagaimana cara kita untuk bisa menjunjung tinggi peradaban kemanusiaan sesuai dengan makna sila kedua Pancasila di jaman yang sudah modern ini?

Kalau dulu saya SD di tahun delapan puluhan, saya wajib menghafal 36 butir P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), dan itu tidak mudah bagi seorang siswa seperti saya untuk lancar menghafal. Begitu pula pada awal masuk SMP, sekolah wajib mengadakan penataran P4, mungkin kegiatan serupa di masa sekarang yang lebih dikenal dengan istilah MOS, MOPD, atau yang terbaru MPLS. Memang tidak bisa dikatakan bahwa menghafal P4 itu juga akan efektif sehingga siswa setelah menghafal, lalu bisa mengamalkannya, seperti dari kepanjangan P4 itu sendiri, karena jujur, dulu saya juga tidak begitu mengerti makna dari butir-butir yang saya hafalkan itu. Tetapi setidaknya, setelah dewasa, saya berfikir, bahwa kalau kita renungkan butir-butir P4 itu sebenarnya merupakan rumusan yang sangat luar biasa, kalau kita-benar-benar mau melaksanakannya. 

Berikut saya kutipkan 8 butir penjabaran dari sila kedua Pancasila:











  1. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.
  2. Saling mencintai sesama manusia.
  3. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
  4. Tidak semena-mena terhadap orang lain.
  5. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
  6. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  7. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  8. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu kembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

Dari delapan butir penjabaran sila kedua sesuai dengan P4, maka jika sebagian saja kita bisa menerapkan dalam kehidupan dengan sebenar-benarnya, bukan tidak mungkin tujuan dari para pemikir bangsa ini hingga mencetuskan dasar negara dalam bentuk rumusan Pancasila akan tercapai. Khususnya untuk sila kedua ini akan tercipta di mana kami akan saling menghargai hak-hak hidup sesama kita, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, tidak saling merendahkan, saling mencintai, saling membantu, dan menjujung keadilan. Betapa hidup ini akan tercipta perdamaian dan kedamaian hidup di negeri yang sudah merdeka ini.

Salam literasi

"Tulislah kegelisahanmu, sehingga semakin banyak orang gelisah setelah membaca tulisanmu"

#AISEIWritingChallenge

#HariKesaktianPancasila

#June2021Challenge






Minggu, 06 Juni 2021

Banyak Hal Terjadi setelah Gabung AISEI Writing Club - Part 2

Bapak Ibu guru penulis yang selalu luar biasa. 

Perkenankan saya melanjutkan ngudal rasa saya tentang banyak hal yang terjadi setelah gabung AISEI Writing Club ini. Kalau kemarin saya menulis banyak tentang keterlibatan Pak Toad Isbani sehingga saya terjangkit virus blogger, sekarang saya akan banyak bercerita tentang bagaimana saya mengawali ikut challenge bulan April dan dilanjutkan challenge bulan Mei.

Masih di April Challenge, tanggal 28 malam, saya harus menyelesaikan 2 artikel untuk saya share ke grup sebagai keikutsertaan challenge perdana dengan tema wanita dan keberhasilannya. Setelah bersemedi berjam-jam untuk mencari inspirasi, akhirnya saya menemukan juga sosok dua wanita yang mesti saya tulis. Setelah jadi tulisan mentah, saya revisi beberapa kali, saya beri judul Guru PNS yang Mantan TKW dan Dua Gadisku Belajar Online Sambil Mengasuh Balita akhirnya dua judul tulisan itu pun keluar dan langsung segera saya copy link dan kirim. Entah bagaimanapun isinya, saya beranikan sertakan tulisan saya itu. 

Tibalah saatnya malam pengundian. Ibu Amadea Sitorus mengumumkan di group dengan cara share video random wheel ke grup WA. Tak sabar saya play video dan jarum pada random wheel berhenti di link blogspot saya. Surprise malam itu tak tertahankan dan beberapa setelah itu ucapan selamat dari para anggota WAG yang juga belum saya kenal betul. Bahagia tak bisa tertahankan dan saya teriak-teriak di rumah kalau saya akan dapat buku. Alhamdulillah, my lucky day. Hehe.

Dan rupanya tidak hanya sampai di situ, ternyata tim AISEI meminta dari 2 tulisan yang dikirim itu untuk dipilih yang terbaik dan akan dipilih dan akan mendapatkan surprise pula. Akhirnya saya pilih salah satu judul yang menurut saya terbaik yaiu  Guru PNS yang Mantan TKW. Terpilih atau tidak, saya tidak ambil pusing, yang terpenting bagi saya adalah pengalaman mengikuti challenge yang membuat saya semakin tertantang untuk menulis lagi dan lagi. Dan tulisan terpilih akan diumumkan pada hari Selasa, 4 Mei 2021 pada acara menulis Cerita dan Tulisan Kami Bersama.


Selasa 4 Mei 2021 adalah hari pertama saya mengikuti kegiatan AISEI selain challenge. Betapa saya mendapatkan banyak ilmu dan selain praktek menulis langsung pada saat acara, saya juga banyak belajar teknik menulis bersama Mas Edy Zaqeus, writer, experienced writing coach, consultant, dan founder of Bornrich Consulting yang sudah menerbitkan banyak buku dan alhamdulillah, saya mendapat banyak asupan tentang bagaimana cara menulis essai dengan teknik MAS (Masalah, Analisis, dan Simpulan / Saran) yang tentunya teknik ini sangat penting bagi saya untuk membekali diri dalam menulis nanti. 

Selesai penjelasan dari Mas Edy Zaqeus, seperti janji Ibu Amadea Sitorus, bahwa akan diumumkan hari itu juga, challenge buat bulan mei dan tulisan pilihan bulan April. Sungguh diluar pemikiran, link blog saya muncul lagi di pengumuman itu bersama dengan tulisan Ibu E Hasanah. Kegembiraan yang tak terbayangkan. Tentunya bukan saja hadiahnya, tetapi best moment yang tak bisa terlupakan. Beberapa hari kemudian, setelah lebaran, Kurikulum Ngumpet karya Ibu Dr. Capri Anjaya yang luar biasa, mendarat ke Purwokerto. Benar-benar hadiah lebaran yang istimewa buat saya di awal gabung AISEI Writing Club.


May Challenge: Katamutiaraku

Memasuki Mei, May Challenge pun dibuka pada akhir acara menulis dengan Mas Edy Zaqeus, yaitu menulis kata Mutiara setiap Senin, Selasa, dan Rabu dengan pancingan satu kata lalu membuat sebuah kata mutiara karya sendiri. Yang saya rasakan selama mengikuti challenge bulan Mei ini bahwa saya merasa berubah menjadi seorang yang paling bijak, yang setiap hari kerjanya memotivasi orang dengan kata-kata bijak ciptaan sendir. Terasa aneh namun asyik. Tidak menyangka dengan pancingan kata seperti: kebahagiaan, impian, kesuksesan, gelombang, lingkungan, perjuangan, mentari, keberanian, harapan, maaf, sahabat, dan pendidikan, dua belas kata ajaib yang merubah saya menjadi orang bijak dan kreatif seketika. Ya, setiap hari saya berkutat dengan canva.com untuk membuat desain sederhana agar katamutiaraku menjadi tampil lebih indah. 

Ternyata saya tidak cukup puas dengan itu, setelah sekitar terkumpul sepuluh kata mutiara, saya ingin mencoba mengkompilasi poster kata mutara tadi menjadi sebuah slide show lewat google slide dan saya mencoba tutorial di youtube, cara menampilkan google slide di blogger, dan ternyata ada, dan saya berhasil menampilkan slideshow tersebut di blogspot.  Yang mau belajar, silahkan klik link tutorial you tube ini : Cara mudah menampilkan slide show di blogspot. Nah, sekarang tampilan blogspot saya sudah bertambah satu gadget lagi berupa slideshow dengan judul My Quotes yang menampilkan 12 kata mutiara hasil May Challenge. Keren kan?

Lalu, saya masih ingin mengabadikan hasil May Challenge itu ke akun youtube saya juga. Saya buat kompilasi 12 kata mutiara dalam bentuk poster dari Canva, jadilah sebuah video, dengan ditambahkan sedikit musik ringan untuk menambah suasana asyik saat membaca di video. Saya upload video katamutiaraku dari May Challenge ke akun youtube dan publish. Tak lupa saya share juga link youtube ke WAG AISEI ini. Bagi yang belum lihat silahkan klik link : https://www.youtube.com/watch?v=6AnA3mpcA-k  dan jangan lupa, klik like, subscribe, and share, he he he...

Tak ada yang tak indah rasanya untuk dikenang setelah gabung AISEI Writing Club. Nikmatnya masih terasa hingga sekarang dan saya semakin kecanduan, menulis dan utak-atik blog. Sebuah kalimat motivasi yang pernah saya baca dan sampai sekarang masih teringat yaitu kalimat magic dari Pak D Sus, kalau tidak salah, 'Menulis saja, ada yang baca maupun tidak tetaplah menulis.' Kata-kata ini sangat dalam menurut saya, karena selalu memprovokasi saya untuk tetap menulis dan share di grup, walaupun hanya satu dua orang yang komen, saya tak peduli. Selain kata-kata ajaib Pak D Sus tadi, saya juga belajar dari tagline di blog Om Jay, 'Menulislah Setiap Hari & Buktikan Apa yang Terjadi'. Kalimat ini juga selalu memacu saya untuk tetap menulis walau kadang masih ada hari yang terlewat tidak menulis. 

Dua kalimat pemicu dari para inspirator di AISEI ini benar-benar membuat jantung saya terus terbakar. Karena itu saya tergelitik juga untuk buat tagline seperti para inspirator di sini. Inilah tagline saya yang akan saya tampilkan di blog mulai Juni 2021, "Tulislah semua kegelisahanmu, sehingga semakin banyak orang gelisah setelah membaca tulisanmu." 


"Tulislah semua kegelisahanmu, sehingga semakin banyak orang gelisah setelah membaca tulisanmu." 





Memaknai Pancasila Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa

 









Indonesia yang begitu luas dan meiliki keberagaman yang tak terbatas baik suku, budaya, adat istiadat, agama dan lain-lain yang berada dalam satu ikatan Bhineka Tunggal Ika, telah membentuk sebuah senyawa yang membentuk sebuah ruang berbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam memaknai sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, warga negara Indonesai diberikan kebebasan untuk memeluk agamanya sesuai kepercayaan yang dianutnya. Hal ini tentunya memberikan arti kepada seluruh warga negara Indonesia bahwa semua warga diberikan hak yang sama untuk dapat beribadah sesuai dengan agama masing-masing dan dapat melakukan kegiatan keagamaan seperti merayakan hari-hari penting agamanya.

Dalam tulisan ini saya akan memaknai sila pertama ini ke dalam beberapa sikap tertentu yaitu:

Sikap Individual 
Dalam sikap ini, pemeluk agama tentunya akan memiliki komitmen untuk bisa melaksanakan semaksimal mungkin kegiatan peribadatan sesuai dengan tuntunannya masing-masing. Begitu pula tempat ibadah yang digunakan sudah sesuai dengan tempat masing-masing yang sudah mereka sediakan dan tentunya tidak dapat digunakan oleh agama lain untuk melakukan peribadatan. 

Sikap toleran
Sikap toleren yang dimaksud adalah sikap di mana pemeluk suatu agama terhadap pemeluk agama lain akan memberikan ruang yang nyaman seperti sikap tidak ikut mencampuri, mengganggu, apalagi memberikan terror yang dapat memecah belah kerukunan dan persatuan bangsa yang beragam ini. Sikap toleran adalah sikap saling menghargai antarsesama pemeluk agama dan tidak mencampuri aktifitas ibadah maupun kegiatan keagamaan agama lain.

Sikap Peduli
Sikap peduli ini dapat ditandai bahwa walaupun kita berbeda agama yang tentunya memiliki perbedaan dalam tata cara beribadah dan tata cara perayaan hari penting agama, tetapi dalam hubungan sosial kemanusiaan tentunya kita tidak akan melihat perbedaan itu. Kita tetap saling membantu sesama manusia dalam konteks kehidupan sosial di mana kita tidak akan bisa lepas dari uluran tangan orang lain seutuhnya. Hal ini akan ditemukan ketika pada sebuah daerah di mana hanya tinggal dari sekelompok agama tertentu misalnya, dan mereka tanpa kita duga mendapatkan bencana atau musibah, tentunya kewajiban kita sebagai mahluk sosial tidak bisa akan melepaskan begitu saja hanya karena kita berbeda agama. Atau bahkan ketika negara ini sedang mendapat ancaman dari negara lain misalnya, maka semua warga negara dan tanpa melihat apa pun agamanya, akan bersatu padu untuk membelanya.

Sikap Bertanggungjawab
Sikap bertanggungjawab akan dapat dilihat dari bagaimana kita mampu menempatkan diri sebagai manusia yang mampu berperilaku sebagaimana mahluk yang beragama. Dan setiap agama mengajarkan bagaimana kita dapat beribadah terhadap tuhannya dan berbuat baik terhadap sesamanya dan semua ciptaan tuhan. Tentunya dalam aplikasi kehidupan sehari-hari, kita akan mempertimbangkan apakah perbuatan yang sudah kita lakukan sudah mencerminkan bahwa kita sudah bertanggungjawab atau belum sebagai manusia yang beragama. Jika kita semua menyadari akan hal ini, tentunya akan terjadi keseimbangan dalam tatanan kehidupan manusia dalam sebuah negara bahkan akan tercapainya perdamaian dunia. 

Tentunya berbagai pendapat dan cara pandang kita dalam memaknai sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang merupakan sila pertama Pancasila ini akan berbeda dan beragam, namun sedikitnya ulasan di atas akan dapat menjadi bahan perenungan kita untuk dapat bersikap sehingga akan tercipta tujuan dasar negara kita ini.


#HariKesaktianPancasila

#AiseiWritingChallenge

#Juni2021Challenge




Kamis, 03 Juni 2021

Banyak Hal Terjadi setelah Gabung AISEI Writing Club - Part 1

 Teman Baruku, Mentorku

Teman-teman guru blogger yang selalu luar biasa. Ijinkan saya untuk berbagi rasa setelah kurang lebih satu bulan bergabung di AISEI Writing Club, khususnya di WAG. Waktu itu 24 April 2021, beberapa hari setelah kita memperingati hari lahir RA. Kartini di tahun ini, saya bergabung di WAG AISEI Writing Club2. 

Tentunya bukan tanpa sebab dan tiba-tiba saja saya berada di group AISEI Writing Club ini. Berawal dari ajakan di WA group guru sekolah saya yang dishare kepala sekolah kami, Mr.David Ludiranto. Sebenarnya saya sering juga mendapat invitation untuk mengikuti grup menulis sebelumnya, tetapi saya belum memberanikan diri untuk ikut, tentunya karena berbagai alasan yang menjadi pertimbangan untuk menunda dan memutuskan untuk tidak gabung.

Saya merasakan sebuah perbedaan di AISEI ini, sehingga saya merasa ingin segera bergabung. Hal ini tentunya karena saya pernah mendengar nama AISEI yang disampaikan dalam acara Professional Development yang diselenggarakan sekolah. Saya tergerak untuk bergabung dan ingin segera menggerakan kembali jari-jemari tangan saya untuk merangkai kalimat yang dulu pernah saya gerakan hingga menerbitkan buku. Sudah cukup lama, hampir 3 tahun saya vakum tidak menulis. Tentunya alasan klasik, seperti sibuk dan malas yang sebenarnya itu bukan alasan yang mendasar. Mungkin saya butuh dirangsang dan dimotivasi oleh sebuah tantangan sehingga keinginan menulis bisa muncul kembali.

Setelah berada di WAG AISEI, saya mencoba mengamati aktifitas apa yang ada di dalam grup itu. Saya melihat beberapa anggota grup mebagikan link blog masing-masing dan saya mencoba membuka dan menelusuri tulisan-tulisan mereka. Banyak sekali ragamnya dan tulisannya sudah sangat bagus. Ada yang menuliskan kisah pribadinya, kegiatan sehari-hari di sekolahnya, ada yang sekedar sharing apa saja. Sungguh luar biasa para anggota AISEI Writing Club ini, saya pikir. Seperti biasa, ada rasa minder dan hati-hati saya untuk melangkah.  Namun ada hal menarik yang saya coba amati, ternyata ada tantangan menulis yang sedang berjalan di bulan April dengan tema menulis wanita dan keberhasilannya. Serasa ingin mengikuti challenge itu tapi saya belum berani. Lalu tanggal 27 April malam, saya mencoba memberanikan diri untuk memperkenalkan diri di grup dan mendapatkan tanggapan dari beberapa anggota AISEI atau mungkin tim AISEI saya tidak begitu mengerti.


Paginya, 28 April sekitar pukul 11, sesuatu tak terduga terjadi. Saya mendapatkan pesan WA dari Pak Toad Isbani dan saya tahu nama ini ada di grup WA tersebut. Beliau menawarkan bantuan tentang menulis di Grup Writing Club ini dan dengan kerendahan hatinya mengajak saya untuk ikut challenge April tersebut. Menurutnya, kita ada tantangan menulis di setiap tanggal ganjil dan selasa depan akan diundi. Sementara bulan April sudah mau habis, Pak Toad mendorong saya untuk menulis untuk tantangan tanggl 27 dan 29 sekaligus. Dua artikel dalam 2 hari harus selesai. Saya pun nekad untuk ambil tantangan ini.

Kembali ke Pak Toad, betapa saya seolah mendapat kawan bermain setelah beberapa hari gabung di AISEI dan saya seperti tidak tahu mau ngapain. Lalu, Pak Toad memang benar-benar saya ajak bermain. Pak Toad menawarkan bantuan untuk sekedar sharing ngeblog. Setelah agak lama mengobrol, langsung saja saya tembak Pak Toad dengan berbagai pertanyaan seputar tampilan blog. Saya memang sudah agak lama kepo dengan tampilan blogspot saya yang monoton. Karena saya melihat tampilan blogspot Pak Toad dan beberapa blogger lain juga lebih menarik, ada menu-menu yang ngelink ke postingan. Dalam hati, saya ingin sekali membuat tampilan blog yang seperti itu, dan tanpa malu-malu saya tanyakan semua ke Pak Toad, teman bermain sekaligus mentor saya di AISEI. 

Dan alhamdulillah, Pak Toad memang orang yang sangat rendah hati, suka membantu, dan suka berbagi ilmu. Beliau menjelaskan tentang tampilan blog yang bermenu-menu dan ngelink tersebut, ternyata bukan berbayar seperti yang saya duga sebelumnya. Pak Toad menceritakan pengalamannya bahwa beliau menggunakan blogspot sederhana seadanya dengan thema yg disediakan dan terbatas sejak 2010 sampai sekitar 2015 an, terus mulai mengambil template dan mencari di google template blogspot gratis dengan mengkopikan skripnya ke html blogspot. Tetapi katanya masih monoton dari tamplate saja, lalu sejak 2019 akhir beliau sedikit merubah tampilan dari template dan menyempurnakan sesuai keinginan dengan membaca-baca tutorial di google juga dan mengimplementasikannya. Mendengar penjelasan ini, saya langsung berfikir untuk mengikuti jejak Pak Toad, mencari template blogspot di internet, mendownload dan mencoba baca-baca tutorial juga. Yang paling menarik adalah bahasa html atau coding yang sering saya dengar tetapi tidak mengerti sama sekali istilahnya apalagi penggunaannya.

Banyak hal baru dan menarik dari mempelajari template yang sudah saya download ini. Sedikitnya, saya harus nguprek template beserta tutorial yang agak rumit tentang html dan bagaimana cara switch html yang ada di template blog bawaan dan template baru yang lebih kece itu. Semua permasalahan saya adukan ke Pak Toad dan kadang ke youtube tutorial. Dan akhirnya, tampilan blog saya sudah banyak perubahan setelah mendapat bimbingan yang luar biasa dari Pak Toad dan dari Youtube tutorial. Saya yang tadinya kepo untuk membuat menu di blogspot, sekarang walaupun masih sangat minim pengetahuan saya, setidaknya saya sudah bisa merubah nama menu dan membuat link ke postingan blog saya dan tampilan blogspot saya sekarang sudah banyak perubahan dan saya masih akan terus belajar untuk banyak hal.

Masih ada banyak hal yang terjadi setelah gabung AISEI Writing Club ini yang belum sempat saya ceritakan yang lebih seru dan mendorong semangat saya untuk menulis.

Terimakasih AISEI. Terimakasih Pak Toad Isbani. Terimakasih teman-teman guru penulis semua, para mentor dan para pakar menulis yang ada di AISEI Writing Club ini. Kalian semua menjadi inspirator saya. Semoga teman-teman semua berkenan membaca tulisan ini dan bersedia membaca lanjutannya di Banyak Hal Terjadi setelah Gabung AISEI Writing Club2-Part 2.

(Bersambung)



Senin, 31 Mei 2021

My Quote: Mentari


 "Seperti mentari, kehidupan harus bersinar walau kadang redup kerena tertutup awan dan bahkan gelap gulita karena siang berganti malam."


#AISEIWritingClub

#Katamutiaraku

#Day12MayChallenge

Selasa, 25 Mei 2021

My Quotes : Kesuksesan



 "Meraih kesuksesan seperti meniti anak tangga yang harus dilalui satu persatu dan kadang berhenti untuk menghela nafas dan membiarkan orang lain lewat terlebih dahulu hingga akhirnya mencapai puncaknya"

#AISEIWritingClub
#Katamutiaraku
#Day9WritingChallenge

Sabtu, 22 Mei 2021

Problema Anak Tengah, Middle Child Syndrome


“Children are our most valuable resource.” – Herbert Hoover

Kali ini aku akan mencoba sedikit bercerita khusus tentang anak-anakku, khususnya anak keduaku. Bukan karena dia begitu spesial bagiku karena semua anak-anakku memang sangat spesial. Banyak hal yang membuat kami terus belajar dari setiap kejadian dalam mendidik dan membesarkan mereka. 

Suatu pagi, sewaktu aku sedang rapat verifikasi soal via zoom, tiba-tiba anak keduaku keluar dari kamarnya dengan muka seperti ketakutan dan mengeluh sesak nafas. Lansung saya off camera dan meminta dia duduk di kursi di depanku. Dengan sigap aku mencari semacam minyak telon atau kayuputih untuk sekedar dioleskan di telapak tangannya atau pun kakinya sambil dipijit-pijit. Yang dia butuhkan adalah ketenangan, kenyamanan, bahkan sentuhan sehingga ketika dioleskan minyak tersebut dia akan merasakan sentuhan yang memberikan ketenangan. Aku hafal betul dengan kondisi anakku karena kejadian seperti ini bukan yang pertama kali terjadi.  Aku ajak dia senyum sambil mengelus tangannya dengan minyak  dan aku suruh dia duduk tegak dan sedikit-sedikit tarik nafas. 

Perlahan-lahan aku masuk ke alam pikirannya dengan memberikan bisikan kata yang menenangkan di dekat telinganya bahwa semua akan baik-baik saja. Semua orang punya masalah dan setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. 

Selama ini dia sering merasa bahwa dia mempunyai banyak masalah, selalu menjadi beban keluarga dan memiliki sifat lebih jelek dibandingkan saudara-saudaranya. Tetapi aku selalu menjelaskan padanya bahwa setiap anak memiliki keistimewaannya masing-masing, begitu pula kelemahannya. Aku bilang bahwa dari keempat-empatnya anakku tidak ada yang terlahir dengan sifat dan karakter yang jelek saja maupun baik saja. Semua anak dilahirkan dengan berbagai karakter yang diturunkan dari kedua orang tuanya dan bahkan mungkin membawa sifat kakek dan neneknya. Jadi sudah dipastikan masing-masing anak memiliki kelebihan dan kekurangan sama seperti karakter manusia pada umumnya.

Selain dari sudut genetika, ada juga karakter yang dibentuk dari pendidikan orang tua dan lingkungan di mana dia berada dan bersosialisasi. Pengaruh lain juga dari kondisi sosial ekonomi orang tua saat dilahirkan dari anak pertama, kedua, ketiga, dan keempat yang berbeda-beda. Sebagai latar belakang keluargaku yang dari merangkak hingga jongkok lalu berdiri, tetunya membawa pengaruh penting bagi setiap anak yang dilahirkan. Karena hampir bisa dipastikan bahwa setiap kelahiran anak-anakku memiliki background kondisi yang berbeda-beda. 

Anak pertamaku yang lahir di saat jaman krisis moneter di tahun 1998 dengan kondisi ekonomi keluargaku yang saat itu juga tidak menentu, tentunya kondisi ini yang memprihatinkan dan banyak sekali keterbatasan. Namun sebagai anak pertama laki-laki yang terlahir sangatlah ingin memberikan yang terbaik bagi anak pertama ini. Walaupun mungkin segala kebutuhan tidaklah bisa terpenuhi, tapi kami sebagai orang tua mengingnkan anak ini untuk mendapatkan sesuatunya sesuai kebutuhanya. 

Berbeda dengan anak kedua, yang kebetulan perempuan. Anak kedua kami lahir selang 4 tahun dari kelahiran kakaknya. Hadirnya bayi perempuan di keluarga kami menjadi pelengkap kebahagiaan setelah anak pertama terlahir laki-laki. Seandainya anak kami cuma dua, maka lengkaplah dengan sepasang anak laki-laki dan perempuan. Begitu pula kondisi ekonomi keluarga juga sudah meningkat setapak lebih baik dari kelahiran anak pertama. Walaupun tidak semua kebutuhan dapat terpenuhi, namun setidaknya sudah lebih baik pada kondisi anak kedua ini lahir. Hal ini tentunya banyak faktor yang membentuk karakternya pula.

Tetapi permasalahan lain muncul ketika empat tahun kemudian lahirlah anak kami yang ketiga, dan perempuan. Anak kedua kami yang berumur empat tahun harus mempunyai seorang adik perempuan. Hal ini bisa menjadikan sebuah kebaikan buat sang kakak, namun juga bisa sebaliknya. Baiknya, ketika si adik bisa menjadi teman bermain yang satu gender dengan kakanya. Mereka bisa bermain bersama dengan mainan yang sama. Atau mereka bisa bermain peran dalam permainannya dengan menggunakan pakaian perempuan dalam sebuah drama-dramaan anak-anak. Namun ketika mereka sedang tidak bisa bermain bersama, justru persamaan gender dengan usia yang berbeda juga bisa menimbulkan masalah baru. Persaingan dalam hal mainan, pakaian, perhatian pada orang tua dan tentunya sang kakak akan merasa tersisih dalam hal perhatian. Ketika suatu saat sang adik dibelikan mainan baru atau pakaian baru sedang sang kakak tidak, malapetaka bisa terjadi. Kalaupun kami berdalih bahwa, 'dulu waktu kamu kecil, kamu juga dibelikan mainan yang sama, atau pakaian yang sama seperti adikmu,' tapi tentunya dia sudah lupa dan tidak mau mengerti. Menurutnya, kita sebagai orang tua telah berlaku membeda-bedakan. Mungkin itu yang dinamakan middle child syndrome.

Menurut artikel yang saya baca dari https://id.theasianparent.com/middle-child-syndrome  bahwa anak tengah akan mengalami middle child syndrome karena orang tua lebih memperhatikan anak sulung dan memanjakan anak bungsu. Sebagai pelampiasan dari rasa diabaikan tersebut, anak tengah akan memiliki kecenderungan untuk berulah. Membaca ini, aku lantas berfikir apakah kami sebagai orang tua sudah memperlakukan anak kedua kami tersebut seperti itu? Kami mencoba merefleksikan diri apa yang sudah kami lakukan selama ini. Sebagai orang tua, kami merasa sudah semaksimal mungkin berlaku adil pada anak-anak dan sesuai porsinya. Tidak ada yang dilebih-lebihkan baik anak sulung, anak kedua, ataupun anak bungsu. Tapi itulah yang terjadi seperti yang disampaikan oleh artikel itu, mungkin secara tidak sadar, kami melakukan itu, lebih memperhatikan si sulung dan memanjakan si bungsu, walaupun itu terdengar terlalu kasar. 

Kemabali ke anak keduaku, yang sementara kami sebut sebagai anak tengah, karena anak keempat lahir setelah anak ketiga kami berumur 10 tahun. Jadi bisa dikatakan, karakter anak kedua kami menjadi anak tengah sudah terbentuk sebelum si anak keempat kami lahir.

Kalau berkaca pada artikel di atas, ada hal yang menghawatirkan yang menyelinap di dadaku. Apakah betul nantinya anak kami tersebut akan benar-benar berulah? Tetapi saya paham betul perkembangan anakku. Justru dari sifatnya yang memiliki kepekaan lebih itulah terlihat ada hal-hal positif yang muncul. Dia cenderung ingin memperhatikan lebih pada orang lain dibandingkan pada dirinya sendiri. Untuk itu dia sebenarnya memiliki keistitimewaan yang bisa dijadikan bekal di masa mendatang. Kami harus optimis dengan keadaan anak tersebut. 

Dalam perilaku yang dapat diamati setiap hari, dia sering tidak tega melihat orang lain menderita termasuk terhadap binatang sekali pun. Hal inilah yang justru menjadi strength buat dia. Walalupun kepekaannya yang berlebih kadang membuatnya kurang mempedulikan dirinya sendiri dan sering menjadi gelisah hingga menangis. Di situlah tantangan kami untuk bisa membesarkan hatinya dan tetap optimis menghadapi masa depannya.  

Hanya dibutuhkan kelembutan dan ungkapan-ungkapan positif yang membukakan pikiran sehingga dia akan semakin membaik. Mungkin sedikit keterbukaan bahwa pada saat tertentu dia merasa resah dan gelisah yang kadang tidak jelas apa penyebabnya. Bahkan suasana sendu dari sebuah alunan musik pun bisa membuatnya menangis tanpa sebab. Hal itu sering diungkapkannya dan kami orang tua cukup tahu saja kalau dia sedang mengalami seperti itu. 

Begitu banyak peristiwa yang terjadi selama mendidik anak-anak sendiri di rumah. Semua orang tua atau pun keluarga pasti pernah mengalaminya dan tentunya dengan kisah problema yang berbeda. Tetapi tentunya kita bisa belajar dari semua peristiwa dan keistimewaan-keistimewaan yang ada pada anak-anak kita. Karakter yang tampak pada anak-anak kita merupakan sebagian besar olahan dan ramuan kita dalam mendidiknya sejak kecil. ayosugiryo.blogspot.com

 #FromHomeWithLove




 

Menjadi Guru : Cita-cita, Kebetulan, atau Panggilan?



Menjadi guru! 

Mengapa aku harus menjawab menjadi guru? Kedengarannya tak ada yang istimewa. Aku pun tak tahu alasannya waktu itu ketika kelas VI SD di tahun 1986 aku ditanya guruku tentang cita-citaku. Aku seperti asal menjawab dan memang saat itu aku belum tahu tentang apa itu cita-cita dan akan menjadi apa nanti saat dewasa aku pun tak tahu.

Walaupun tampak samar, mungkin inilah alasannya. Mungkin semasa SD-ku di desa, sosok guru merupakan sosok yang paling dihormati oleh semua orang apalagi anak-anak. Seorang yang setiap pagi berpakaian PSH rapi membawa tas dan menyapa kami dengan berwibawa di depan kelas. Itu yang selalu kulihat setiap hari. Kenapa aku tidak menjawab menjadi presiden, pilot, dokter, polisi atau yang lainnya seperti jawaban teman-temanku.

Yang aku tahu waktu i
tu guru bisa mengajari aku berhitung, membaca, menulis, menggambar, menyanyi, baris-berbaris, membuat kerajinan tangan, berbicara sopan, masuk kelas tepat waktu, berbuat jujur dan lain sebagainya yang kalau dihitung ternyata susah untuk menghitungnya. Guru yang kadang bisa membuat kami gembira, tertawa, bahkan ketakutan terutama kalau tidak mengerjakan PR. Guru yang membuatku tidak tahu menjadi tahu. Atau guru yang bisa membuatku bangga.

Walupun berjalan sangat lambat dan tanpa disangka-sangka perjalanan hidupku rupanya membawaku hingga menjadi guru. Dari lulus SD di tahun 1986, masuk SMP dan lulus tahun 1989, istirahat satu tahun baru masuk SMA dan lulus tahun 1993, dan setelah pontang-panting selama delapan tahun hingga menikah dan punya anak satu baru berksempatan melanjutkan S1 di tahun 2001 dan lulus tahun 2005. Mulai tahun inilah aku menjadi guru honorer di sekolah negeri. Dari sinilah karirku menjadi guru dimulai. 
Sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat bagiku untuk meniti karir menjadi guru. Selama waktu itu pula aku masih bangga menyandang status guru honorer di sebuah SMA Negeri. Sedangkan umurku waktu itu sudah hampir mendekati 40 tahun atau orang sering menyebutnya sudah kepala empat.
Banyak hal yang sering menggelayut indah di pikiranku. Tiga anak-anaku sudah semakin besar dan tentunya biaya pendidikan yang besar tidak dapat dielakan lagi. Waktu itu anak terbesarku sudah masuk SMA, sedangkan 2 adiknya masih di SD.
Pernah aku membaca pepatah bahwa “Life begins at forty”. Pepatah ini terus menggelitik di telingaku dan menghantuiku. Karena aku sadar di usiaku itu karirku masih bisa dibilang sangatlah belum mapan. Tidak perlu dijelaskan berapa gaji guru honorer, semua sudah bisa menebaknya. Aku hanya murni menjadi guru dan kebutuhan semakin menghimpit.
Kegundahanku semakin terasa menyesak dada hingga akupun akhirnya tidak sanggup menahan perasaan ini sendirian. Seorang yang paling bisa mengerti akupun kuajak bicara dan rupanya dia dapat mengerti perasaanku. Apakah aku harus selamanya menjadi guru honorer di sekolah negeri hingga pensiun, sementara umurku sudah hampir empatpuluh tahun dan masa untuk bisa menjadi guru PNS sudah tidak ada kesempatan lagi? Memang istriku tidak pernah menuntutku untuk menjadi PNS tetapi aku sendiri merasa sebagai seorang sarjana pendidikan setidaknya bisa memiliki penghasilan lebih sesuai ijazahku dibandingkan jika hanya menjadi guru honorer. .
Kami berdua membicarakan hal ini hingga larut malam. Pembicaraanpun semakin mendalam dan kamipun larut dalam pembicaraan masa lalu yang masih terkenang-kenang.
Istriku mengingatkan masa dulu pertama kali bertemu. Aku hanya seorang lulusan SMA dan bekerja menjadi kepala administrasi di sebuah grup perusahaan photo studio dan video shooting. Sedangkan istriku seorang pengajar bahasa Inggris di sebuah lembga kursus. Kami saling kenal di sebuah seminar kemudian saling cocok hingga setahun kemudian memutuskan menikah.
Sungguh sangat malang nasib istriku. Di awal pernikahan di tahun 1998, Negara kita ini sedang mengalami kekacauan politik dan krisis moneter yang sangat parah. Harga rupiah waktu itu mencapai Rp. 18.000 per dollar Amerika. Banyak perusahaan yang bangkrut dan mem-PHK-kan karyawannya termasuk perusahaanku. Semua karyawan di PHK termasuk aku tanpa pesangon yang memuaskan. Sehingga selama menjadi istri di awal pernikahan kami, dia hanya tiga kali menerima gajiku. Selanjutnya aku harus menganggur dan pekerjaan baruku adalah mencari lowongan pekerjaan.
Tidak hanya istriku. Kasihan juga anak pertamaku yang baru memasuki bulan pertama di rahim sang ibunya. Dia harus kekurangan nutrisi karena saat itu aku harus menghemat uang pesangon yang masih tersisa. Seharusnya masa awal pernikahan kami menjadikan masa yang membahagiakan dengan kehamilan anak pertama yang ditunggu-tunggu sebagai hasil cinta.
Nasib memang menyedihkan tetapi the show must go on. Aku tidak mungkin berpangku tangan hanya menghabiskan sisa pesangon yang tak seberapa. Lamaran pekerjaan melayang ke mana-mana di saat banyak perusahaan sedang mengurangi karyawannya. Sangat sulit rasanya waktu itu untuk bisa mendapatkan panggilan wawancara kerja.
Dari sales door to door, Multi Level Marketing, jualan kelilingan pun aku lalui dengan penuh suka cita. Namun hasilnya tidaklah seberapa. Ketika aku tidak mampu menjual barang sesuai target, penghasilanku pun tidak menentu. Untuk memenuhi kebutuhan di masa itu kami mulai berani berhutang sana-sini hingga aku memutuskan untuk mencoba mendaftar jadi TKI di luar negeri. Namun tuhan menghendaki lain karena kondisi kesehatanku tidak memungkinkan dan akhirnya akup un tidak lolos seleksi.
Kami terus mengenang masa lalu itu. Sekarang aku harus bersyukur dengan kondisi ini. Dengan keagungan Tuhan dan  karena tangan-Nya lah nasib kami bisa berubah. Istriku menjadi seorang PNS walaupun hanya golongan 2. Aku pun bisa melanjutkan kuliah hingga lulus dan menjadi seorang guru. Kenikmatan apa lagi yang harus aku pungkiri yang telah diberikan oleh Tuhan.
 Ternyata banyak hal membanggakan yang aku dapatkan selama menjadi guru. Setiap pagi anak-anak datang menghampiriku dan melakukan ritual 3 S (senyum, salam, dan sapa) sambil berjabat tangan. Ketika di kelas, aku menjadi orang nomor satu yang menjadi pusat perhatian. Di sana aku harus bisa menjadi seorang yang memiliki sumber ilmu yang siap untuk dibagikan. Aku harus bisa jadi teman curhat mereka ketika mendapat kesulitan atau ada masalah. Di kelas aku harus bisa menjadi seorang aktor yang mampu ber-acting untuk menarik perhatian mereka ketika mereka sudah mulai lelah dan bosan. Aku juga harus bisa menjadi pengganti orang tua mereka yang bijak dan selalu mengingatkan mereka ketika sikap dan perilaku sudah melewati batas kesopanan. Dan masih banyak lagi yang membuatku tetap merasa bangga dengan profesi ini.
Pembicaraan kami berlanjut namun belum mendapatkan keputusan apa-apa. Pembicaraan hanya seputar perjalanan mas lalu yang tentunya menjadi pengingat bahwa bagaimanapun juga keadaan ini lebih baik. Menurut pendapat istri, hingga pensiun tetap menjadi guru honorer di sekolah negeri bukanlah hal yang perlu disesalkan. Tetapi kalau hal ini sangat menyiksa diriku, maka perlu diputuskan solusi lain.
Begitu bijaksananya sang istri hingga aku pun harus kembali merenung. Dan akhirnya aku tidak mampu memutuskan apa-apa selain tetap harus menjalaninya sampai pembicaraan serius inipun terhenti.
Hingga suatu saat di awal tahun 2014,  ada kebijakan mengenai kurikulum 2013 yang harus secara serentak diberlakukan di semua sekolah. Di situ, posisiku adalah salah seorang yang harus siap kehilangan jam mengajar. Karena ternyata jam perminggu di SMA untuk mapel bahasa  Inggris berkurang menjadi 2 jam. Alhasil, jumlah jam yang ada hanya cukup diberikan kepada yang berhak yaitu guru PNS.
Aku sadar sepenuhnya kalau perjuanganku selama 9 tahun di SMA negeri tersebut harus aku akhiri. Sedikitpun aku tidak akan menyesal kalau aku harus kehilangan pekerjaan sebagai guru di sekolah tersebut. Tetapi kehilangan momen berbagi ilmu dan mendidik anak-anak adalah hal yang paling mendasar  yang tidak bisa dilupakan dalam waktu singkat.
Adalah sang istri yang bisa menjadi tumpuanku di saat aku sedang galau. Kami pun kembali mengadakan rapat empat mata untuk mendiskusikan masalah yang dulu pernah dibahasnya. Istriku terus memberi semangat dengan mengusulkan berbagai macam alternatif.  
Hingga akhirnya aku harus benar-benar memutuskan untuk resign dari sekolah negeri tersebut. Di luar sana masih banyak sekolah yang membutuhkan sosok guru seperti aku kata istriku membuatku semakin yakin. Dan benar juga, tak lama setelah itu, panggilan wawancara, tes tulis, dan micro teaching pun aku lalui hingga akhirnya aku benar-benar menjadi bagian dari guru di sekolah tersebut.
Status guru honorer di sekolah negeri sudah tidak aku sandang lagi. Statusku berubah menjadi guru yayasan. Apapun statusku dulu maupun sekarang bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Berapapun gajiku dulu maupun sekarang bukanlah ukuran yang bisa menjamin kebahagiaan dan kepuasan. Yang terpenting bagiku adalah aku telah diberi kesempatan untuk menjadi guru. Tidak semua orang bisa merasakan betapa bangganya menjadi guru. Ketika di suatu waktu bertemu seorang yang telah sukses dan dia mengaku pernah menjadi muridku di masa lalu, kebagahiaan inilah yang singgah di dadaku. Momen ini yang sering aku rasakan hingga kepuasan batin ini tidak mungkin aku dapatkan seandainya aku tidak menjadi guru.
Mungkin semua sudah menjadi rencana-Nya dan semua perjuangan dan pengalaman masa lalukulah yang mampu mendewasakanku. Banyak hal yang tidak dapat dipungkiri dan banyak hal yang harus aku syukuri.

Jumat, 21 Mei 2021

Halalbihalal Puhua School : Bersatu dalam Keberagaman

Halalbihalal Puhua School : Bersatu dalam Keberagaman


"Halalbihalal Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan"

Bulan Mei tahun 2021 merupakan bulan yang sangat istimewa karena banyak momen penting yang terjadi di bulan ini. Pertama, kita merayakan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2021. Kedua, tanggal 13 Mei, di mana semua umat Islam sedang berbahagia merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa dan merayakan Hari Raya Idul Fitri tahun 1442 H. Lalu pada tanggal 20 Mei, adalah merupakan hari di mana kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. 

Masih dalam momen hari-hari penting itu, tanggal 21 Mei, hari ini Sekolah Tiga Bahasa Putera Harapan Purwokerto (Puhua School) juga mengadakan acara yang sangat istimewa bagi kebersamaan keluarga besar Puhua School yang terdiri dari Yayasan, Konsultan Sekolah, Senior Management Team,  guru dan karyawan, orang tua siswa, dan para siswa. Kami bersatu dalam keberagaman yang merupakan tema hikmah silaturahmi yang disampaikan secara mendalam dan sangat mengena dengan perbedaan yang dapat menyatu pada acara inti yang disampaikan oleh Gus Ajir Ubaidillah pemimpin Ponpes Nurul Huda Cilongok. Acara tersebut diadakan secara virtual sore tadi mulai pukul 16.00 WIB. 

Acara halalbihalal ini juga dihadiri oleh konsultan Puhua School Ibu Dr. Capri Anjaya yang dalam sambutan penutupan menyampaikan beberapa kesan yang mendalam tentang kegiatan tersebut. Salah satu kesan yang disampaikan adalah bahwa beliau dapat merasakan kebersamaan dalam perbedaan di lingkungan Puhua School karena semua pihak saling meminta maaf dan memafkan yang merupakan momen yang sangat indah, dan tentunya akan lebih indah jika momen hari ini akan diterapkan setiap hari dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu beliau berharap kualitas pendidikan di Puhua School akan terus meningkat dengan semangat kebersamaan dalam perbedaan ini. 

Acara silaturahmi virtual tersebut dilengkapi dengan ikrar permintaan maaf dari jajaran pengurus yayasan, perwakilan guru dan karyawan all levels dari Early Year, Primary, dan Secondary, dan tak ketinggalan perwakilan siswa dan juga orang tua siswa. Dengan maaf memaafkan yang yang hanya dilakukan secara virtual namun tidak mengurangi kebersamaan yang selalu diciptakan di lingkungan Puhua School. Bahkan fasilitas online ini bisa dapat mempersatukan semua pihak walaupun dengan jarak yang berbeda dan semua pihak dapat hadir dengan mudah melalui teknologi yang digunakan.

Harapan kami acara tersebut dapat menjadi sarana untuk tetap saling mempererat persaudaraan dalam lingkungan keluarga besar Puhua School dan komitmen Puhua School untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan terbaik kepada masyarakat Banyumas dan masyarakat yang lebih luas. ayosugiryo.blogspot.com

#Repotase


Kamis, 20 Mei 2021