Minggu, 10 Januari 2021

TERINGAT MASA KECILKU

Begitu bebas dan penuh ekspresi. Berlarian di dalam hujan sambil main perang-perangan. Orangtuaku pun tak pernah melarang dan khawatir.
Pergi ke perkebuanan karet bertemu dengan kera-kera bergelayut di pohon karet...dan memungut jamur kayu dibawahnya, merasakan alangkah bebasnya menikmati alam di masa itu..
Beramai-ramai menangkap jangkrik dengan membawa lampu patromax di awal musim hujan, sungguh hal yang menantang bagi anak-anak sepertiku waktu itu.
Mrncari batang pakis muda di rerimbunan pinggir tebing, akan menggembirakan sang ibu karena sore itu ibuku akan memasak daun pakis. Sekarang di supermarket pakis harganya mahal. Dulu tinggal metik di dekat tebing belakang rumah.
Musim cengkeh adalah masa jaya anak-anak waktu itu..Sebutir cengkeh sangatlah bernilai. Secangkir cengkeh adalah uang jajanku sehari. Kembang gula dan telor asin menjadi jajanan favoritku.
Masih banyak yang ingin aku ceritakan tentang masa kecilku yang tidak mungkin dirasakan anak-anakku sekarang. Anak-anakku sekarang tidak sebebas aku dulu dalam berekspresi dengan alam. Dulu aku begitu dekat dengan alam. Alam memberiku kebebasan. Tapi kenapa aku sekarang sering merasa khawatir apabila anakku bergaul dengan alam?
Orang tua jaman sekarang terlalu sering membuat banyak peraturan dan terlalu takut terhadap kebebasan anak anaknya. Takut kebablasan. Takut salah bergaul. Dan takut takut yang lain. Mungkin itu sebabnya anak-anak sekarang lebih berani protes terhadap orang tuanya maupun gurunya karena banyak keinginan atau kebebasan yang sering dibatasi oleh banyak peraturan yang kita buat.

 SEBUAH TEKAD

Masih terngiang kata-kata beliau bapak Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah Bapak Nurhadi Amiyanto sewaktu membuka acara Bimtek Penatausahaan BOS SMA beberapa tahun yang silam (sewaktu masih menjabat). Beliau berpesan pada kita semua terutama para pendidik bahwa masih ada 26 % lulusan SMP di Propinsi Jawa Tengah yang tidak melanjutkan ke SMA/SMK. Lalu kemana mereka? Kita mesti berbuat sesuatu untuk menyelamatkan setidaknya salah satu dari mereka.
Aku jadi teringat sekitar 10 tahun lalu. Ketika kami harus kerepotan menitipkan ke sana kemari anak kami yang ketiga yang waktu itu baru berusia sekitar 4 tahun. Anak ketigaku ini sudah sangat sering pindah tangan pengasuh dari tetangga yang satu ke tetangga yang lain. Kami berfikir untuk mencarikan seseorang yang bisa mendampingi anak kami tersebut di rumah. Lalu kami mencoba meminta tolong semua keluargaku untuk bisa mencarikan orang yang bersedia mengasuh anak terkecilku waktu itu.
Akhirnya kabar baikpun aku peroleh dari keluargaku di desa bahwa ada seorang anak lulusan SMP yang ingin bekerja membantu kami. Kami sangat gembira mendengar berita itu dan keesokan harinya, tanpa berfikir panjang aku langsung melesat menjemput seorang yang katanya baru lulus SMP itu dari desaku kelahiranku.
Dan benar juga, ketika aku sampai di rumahnya, dia memang berminat untuk bekerja sebagai pengasuh anak. ‘Satu permasalahan terselesaikan!’ batinku. Tetapi ada hal yang aku lupa bahwa betapa aku dulu sangat merindukan untuk ingin melanjutkan sekolah di SMA ketika aku harus berhenti satu tahun dan bekerja di Jakarta setelah lulus SMP. Aku benar-benar tidak punya hati nurani dengan mempekerjakan seorang yang harusnya masih duduk di bangku SMA. Aku merasa telah menjadi seorang guru yang kurang memperhatikan hak anak untuk sekolah. Aku hanya mementingkan diri saya sendiri atau lebih tepatnya menyelamatkan diri sendiri.
Aku juga masih teringat pesan sang ayah anak lulusan SMP itu. Sebelum aku membawanya ke rumahku dia berpesan, “Mas guru, saya titip anak saya. Tidak usah dipikirkan berapa gaji anak saya nanti. Asal betah saja di sana gak papa. Dan dia sebenarnya masih ingin belajar.Mas guru pasti bisa membimbingnya untuk terus belajar. ” Begitu pesan seorang ayah dari anaknya yang semata wayang tapi tanpa daya untuk bisa menyekolahkannya ke SMA. Mendengar itu air mataku hampir jatuh dan dalam hati kecilku
Dan benar juga, selama kurang dari satu tahun di rumah kami, anak ini ternyata selalu membuka buku apa saja yang ada di rumahku. Dia suka belajar apapun. Selain mengurus anakku dan mengurus beberapa pekerjaan rumah tangga, dia pun pandai menjadi teman main anak-anakku. Tidak hanya itu, dia juga sekaligus berperan menjadi guru les anak-anakku. Mereka bercengkerama, bernyanyi, bermain, bercerita dan belajar bersama. Kami pun tak melarang bahkan senang ketika dia memanggil kami ayah dan ibu seperti anak-anak kami. Anak-anak kami juga menganggapnya seperti kakaknya sendiri.
Melihat keintimannya dengan anak-anakku dan kami masih ingat pesan ayahnya sewaktu hendak berangkat ke rumahku, istriku berinisiatif untuk menanyakan ke dia kalau dia masih ingin sekolah atau tidak. Dengan malu-malu dia pun menjawab ‘ya’. Segera setelah itu kami mencarikan SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) untuk mencari informasi mengenai Paket C. Setelah cukup mendapatkan informasi dari SKB, kami pun segera mendaftarkannya. Dan berita gembira ini kami sampaikan ke dia dan dia sangat antusias untuk siap belajar di paket C.
Namun karena sesuatu dan lain hal, kami berubah pikiran. Setelah mendapat informasi dari temanku di sekolah, bahwa pendaftar siswa baru untuk lulusan tahun lalu ternyata masih bisa diterima di sekolah negri asal umurnya belum 21 tahun. Mendengar informasi itu, aku langsung berdiskusi dengan sang istri. Dan istriku langsung membatalkan pendaftaran di Paket C yang di SKB dan untuk segera mendaftarkan dia di sekolah formal bahkan di SMA Negeri di mana aku mengajar(SMA Negeri Patikraja). Karena nilainya cukup untuk bisa bersaing dengan calon pendaftar lain, akhirnya diapun lolos seleksi dan diterima di SMA Negri. Kami mengucap syukur Alhamdulillah hingga dia bisa merasakan pendidikan yang dia inginkan.
Kabar ini pun langsung kami sampaikan pada keluarganya di desa. Sang ayah merasa sangat senang mendengar berita itu. Dan kami mengambil komitmen bersama untuk menyesuaikan gajinya dengan biaya sekolahnya artinya kami jujur menyampaikan ke dia bahwa kami sudah tidak sanggup menggaji dia lagi karena biaya sekolah yang harus aku keluarkan lebih besar dari gaji yang seharusnya dia terima sebagai pengasuh anakku lagi. Di sini kami pun belum berfikir panjang bagaimana anak kami yang masih butuh pendamping selama kami bekerja dan dia sekolah. Yang kami pikirkan waktu itu adalah bagaimana si anak lulusan SMP ini bisa sekolah di SMA. Perkara lain-lain kami pikirkan belakangan.
Dengan segenap kemampuan dan kerepotan yang luar biasa, akhirnya kami berhasil mengatasi segala permasalahan dan kesulitan yang akan muncul berikutnya. Biaya sekolah tentunya harus aku pikirkan dikala anak pertamaku juga harus masuk ke SMP. Dan kembali permasalahan pengasuh si kecil menjadi permasalahan yang timbul dan harus dicari solusinya. Tetapi kami sudah berniat untuk tetap menyekolahkan dia sampai lulus SMA. Ternyata hanya Tuhan yang bisa menolong tekad kami. Dengan segala keprihatinan dan kondisiku yang masih berstatus guru honorer waktu itu, semua bisa tertolong. Dari pihak sekolah ternyata banyak membantu seperti diajukannya dia untuk mendapatkan beasiswa dan karena keaktifannya di kegiatan kesiswaan, si anak desa ini pun banyak mendapatkan keringanan biaya sekolah yang tentunya sangat menolong kami. Satu anak telah tertolong hingga bisa meluluskan SMA hanya dengan sebuah tekad dan niat baik. Ternyata benar. Ada Tuhan di sana yang selalu melihat umatnya yang berniat baik.

 HARUSKAH AKU BELI MOBIL PEMADAM KEBAKARAN?



Imajinasi anak memang tak terbatas ibarat burung yang terbang ke alam bebas. Maka janganlah membatasi anak untuk berimajinasi. Kenalkan anak padaa dunia imajinasi yang luas sehingga pada suatu saat anak akan menemukan kenyataan yang pernah diimajinasikan.
Sore ini sepulang kerja, seperti biasa, si kecil minta putar-putar naik motor keliling perumahan dan kampung sekitarnya. Dia tampak gembira sambil berbicara dengan bahasa anak 3 tahun yang belum bisa dicerna jelas oleh pendengarnya, termasuk aku. Tampaknya seperti berbicara denganku tapi lebih banyak tentang imajinasinya dia tentang apa yang mungkin sedang dipikirkannya atau dilihatnya hingga mainan kesayangannya 'Pemadam kebakaran' menjadi topik pembicaraannya yang paling menarik. Sepanjang perjalanan dia tak berhenti berbicara yang entah apa topiknya, ga jelas. Tapi dia enjoy bercerita sambil sesekali menengok ke belakang ke arahku yang sedang mengendarai. Mungkin sedang memastikan bahwa ceritanya itu sedang disimak atau tidak.
Setelah keluar dari pintu gerbang perumahan, kami berbelok ke arah kampung dan berbalik menuju arah perumahan tapi dari arah lain. Ketika hendak sampai tanjakan, tiba-tiba kami melihat keramaian di depan sana. Ketika semakin mendekat, tampaklah orang berkerumun dan ada mobil merah besar sedang parkir, ternyata "Pemadam Kebakaran".
Aku pun langusng menghentikan sepeda motor di dekat Mobil Damkar tadi diparkir. Rupanya anakku belum sadar benar apa yang dilihatnya, sementara aku pun masih bertanya-tanya pada warga yang sedang berkumpul di lokasi, karena tidak ada tanda-tanda kebakaran di sekitar itu. Dan ternyata memang benar ada kebakaran tapi lokasi agak jauh dari tempat parkir tersebut, dan satu hal yang membuatku lega, menurut informasi, rumah yang terbakar tersebut sudah diselamatkan walaupun bagian dapur sudah terbakar dan tidak ada korban jiwa, itu yang penting.
Lepas dari peristiwa kebakaran tersebut, anakku telah sadar bahwa apa yang disaksikan di depan matanya adalah; Sebuah mobil pemadam kebakaran 'betulan' yang selama ini dia imajinasikan baik dalam mainan favoritnya yang jumlahnya pun lebih dari satu dan bukan hanya mainannya, video yang ditontonnya pun setiap hari tidak lepas dari 'pemadam kebakaran'. Dan kali ini dia melihatnya langsung dan bahkan dengan ijin Bapak pemadam kebakaran dia bisa menaiki mobil Damkar tersebut. Rasanya seperti bermimpi saja. Anakku benar-benar berada di dunia nyata yang selama ini diimajinasikan. Sungguh merupakan hal yang tak terduga hari ini dia bisa melihat mainan favoritnya dalam bentuk nyata. 'PEMADAM KEBAKARAN SUNGGUHAN'.
Aku berfikir untuk bisa mengabadikan momen ini, tapi sayang, aku lupa bawa phonsel. Aku berfikir, sebenarnya rumahku tak begitu jauh dengan lokasi, untuk sekedar ambil phonsel dengan harapan bisa berselfie dan sedikit rekam video. Akhirnya aku putuskan untuk pulang dulu dan balik ke lokasi Damkar. Dan Alhamdulillah, Damkar masih berada di sana walaupun dalam posisi mau balik ke kandangnya. Dengan gesit, aku cekrak-cekrek selfie dan rekam video walaupun beberapa detik ketika mobil sedang diparkir mau pulang.
Kisah pun berlanjut dengan dramatis. Ketika mobil pemadam kebakaran harus meninggalkan lokasi dan pulang menuju garasinya, anakku tak bisa menerimanya. Diteriakinya mobil itu berkali-kali hingga dia pun tidak mau diajak pulang. Akhirnya kuajak paksa dia pulang walaupun dia tetap meronta dan tidak bisa menerima kenyataan. Kenyataan ditinggal sang Pemadam Kebakaran.
Sampai rumah, dia pun geger minta balik lagi ke lokasi_padahal sudah tidak ada apa-apa di lokasi itu juga. 'Madakaran ku, madakaran ku' teriaknya dalam tangisnya yang semakin mengeras menyayat hati dan tak berhenti-henti dengan bahasa yang belum sempurna.
Kami serumah berusaha merayunya dengan berbagai cara. Tapi tangisan dan teriakannya tak henti-henti juga. Hingga setelah dia merasa lelah, barulah tangisannya berhenti sambil menyaksikan video rekaman videonya sendiri. Kalau tidak salah hitung, video tersebut diputar hingga puluhan kali hingga membuat kami seisi rumah ketawa dan gemas dibuatnya.
Itulah kisahku hari ini. Memang begitulah anak. Berimajinasi tanpa batas.
Pertanyaanya? Haruskah aku beli mobil pemadam kebakaran sendiri?