Jumat, 01 Februari 2019

Pak Titut, Menikahkan Puteranya dengan Menyanyikan lagu Indonesia Raya


    Sosok yang aku temui hari ini (2 Juli 2018) adalah seorang seniman dan budayawan Banyumas yang ternyata sudah cukup melegenda. Namun banyak orang Banyumas sendiri yang belum mengenalnya. Salah satunya aku sendiri. Mungkin tidak terlalu penting bagi mereka untuk mengenalnya karena tidak ada urusan dengan seniman atau memang tidak tertarik dengan seniman.
      Kedatanganku ke sana juga sebenarnya tidaklah untuk urusan wawancara, bisnis. apalagi mau mengundangnya untuk pentas teater. melainkan kondangan. Ya, kondangan menemani istriku.
     Banyak hal unik yang aku temui dengan personil ini. Dari pertama masuk ke halaman rumahnya, aku sempat terperanjat dan kaget. Aku seperti masuk ke Rumah Hantu yang biasanya ada di pasar malam, fair, atau sejenisnya. Bagian depan rumahnya berupa galeri lukisan hasil karyanya yang dikelilingi dengan berbagai jenis hantu-hantuan khas Indonesia yang cukup mengerikan seperti pocong panca warna, tengkorak manusia, kuntilanak dan lainnya. 
      Selain penampilan personilnya yang juga unik_berambut gondrong dan berpakaian adat seperti orang pintar jaman dulu, ternyata dia memiliki prinsip-prinsip hidup yang unik juga. Dia berpandangan bahwa hidup itu harus dinikmati dan jangan takut berbagi. Karena rejeki akan datang lebih banyak ketika kita banyak berbagi. 
Sebagai seorang seniman, Pak Titut tidak pernah memikirkan berapa besar biaya yang harus dia keluarkan untuk sekedar menampilkan sebuah pertunjukan. Menurut penuturannya, pernikahan puteranya yang baru saja dihelat di kebun samping rumahnya, terselenggara dengan meriah, unik, dan tidak sedikit biaya. Yang membuat aku cukup takjub ketika dia bertutur tentang prosesi pernikahannya yang di dalam acaranya ada 'Menyanyikan lagu Indonesia Raya'. Aku tercengang dibuatnya. Ini upacara pernikahan atau upacara 17an pikirku dalam ketertegunan. Selain itu, dekorasi pernikahan yang tak lazim digelar untuk menambah ketidakjelasan konsep pernikahan putranya. Dan yang bikin kepalaku terus bergeleng-geleng, dia menghabiskan kwintalan hasil bumi seperti terong, labu, singkong, jagung, dll hanya untuk membuat dekorasi pernikahan lebih mendekatkan dengan alam. 
     Selain itu juga digelar beraneka ragam pertunjukan kesenian untuk meramaikan perhelatan itu. Ada wayang kulit, lengger dan iring iringan bak karnaval hari raya kemerdekaan. Sebenarnya ini acara apa, aku masih tak habis pikir.
     Selain seniman, Pak Titut juga menggeluti bidang pertanian. Setiap pagi Pak Titut harus menyapa semua tanaman di kebunyya layaknya berkomunikasi dengan manusia. Sebelum menyiramnya atau sekedar menengoknya dia memberikan salam kepada semua tanamannya. "Assalamualaikum, labu, jagung, singkong,..apa kabar. Mudah-mudah lagi pada sehat semua ya." Tuturnya. Berkomunikasi dengan tanaman diyakininya akan meberikan kecintaan dan rasa syukur dengan sang pencipta. Dia menganggap semua mahluk hidup memiliki nyawa dan apabila disapa dan disentuh dengan cinta maka para tanaman itu akan mendapatkan kebahagiaan dan akibatnya tanamannya dapat membuahkan hasil yang melimpah. Tak lupa Pak Titut akan membagi-bagikan sebagian besar hasil tanamannya ke tetangga atau siapa saja yang melewati kebunnya. Dan hebatnya, tak ada seorangpun yang berani memetik tanaman Pak Titut untuk sekedar iseng atau mencuri. Tentunya bukan karena dia memiliki banyak ornamen hantu-hantuan di rumahnya, tapi karena Pak Titut sudah membagi-bagikan pada mereka. Pak Titut, my inspirator of the week.
Previous Post
Next Post

An English teacher of SMA Puhua Purwokerto who wants to share every moment in life.

3 komentar: