Kamis, 06 Januari 2022

Sukses Tak Kenal Waktu dan Usia - Kisah inspiratif 'Kakek Terganteng' Wang Deshun

 


Mengutip sebuah kisah menarik yang dituturkan oleh seorang model yang terkenal di usia delapan puluh tahun bernama Wang Deshun dari kota Shenyang China bahwa tidak ada kesuksesan yang tertunda. Artinya siapapun berhak untuk sukses kapan saja dan tidak mengenal usia.

Dalam video singkatnya, Wang Deshun mengisahkan bahwa di usianya yang ke delapan puluh tahun, orang mulai mengenalnya sebagai seorang kakek model terganteng. Dalam semalam, pada sebuah pertunjukannya, Wang Deshun mulai dikenal banyak orang. Banyak orang mengatakan bahwa dia hit dalam semalam.

Namun di balik ketenarannya di catwalk, yang telah membuatnya menyandang kakek terganteng, ternyata dia memiliki kisah perjalanan panjang yang membawanya terkenal di usia lanjut. Dia bilang, dia memperjuangkan semua itu selama enam puluh tahun. Dituturkan melalui video singkatnya bahwa pada usia 24 tahun dia pernah menjadi aktor drama. Di usia 44 tahun, dia mulai belajar Bahasa Inggris, dan pada usia 49 tahun dia menciptakan karya seni berupa pantomim.

Kalau ditilik melalui perjuangannya yang panjang rupanya Wang Deshun belum menemukan tujuan hidupnya dan kesuksesan yang mungkin dia impikan. Lalu dia mengembara ke Beijing dengan tangan kosong, tanpa rumah, tanpa mobil dan berawal dari nol. Di usia lima puluh tahun, dia mulai masuk dunia gym dan berolah raga. Pada usia 57 tahun, dia mulai kembali ke panggung dan menciptakan sejenis seni patung hidup. Hingga pada usia tujuh puluh dia mulai melatih perutnya dengan rajin berolahraga dan kembali ke gym. Pada usia 79 tahun, dia mulai menggeluti dunia fashion show. Wang Deshun baru memulai menciptakan mimpi dan tujuannya yaitu menjadi model catwalk. Rupanya kesuksesan yang dicapai merupakan hasil kerja kerasnya selama 60 tahun dan baru diraih setelah menginjak usia delapan puluh tahun. Tak heran kalau melihat perjuangannya yang dia tempuh selama enam puluh tahun menghasilkan sebuah titik tujuan yang jelas di usia yang senja. Bukan menjadi halangan bagi dia untuk tetap berkarya dan mengejar apa yang menjadi tujuan yang baru terlihat di masa yang tidak muda lagi.


Dia meyakini bahwa potensi manusia itu bisa digali. Dalam videonya dia mengatakan bahwa “Ketika anda mengatakan sudah terlambat, anda harus berhati-hati karena kata-kata itu akan menjadi alasan untuk menyerah.”  Siapapun tidak ada yang berhak untuk menghentikan kita untuk sukses. Kenalilah diri kita sendiri sehingga potensi yang mungkin tidak terlihat akan tergali ketika kita mau untuk menggalinya.

Selain kisah Wang Deshun, mungkin juga banyak kisah sukses di masa tua. Wang Deshun hanya satu contoh nyata yang terekam yang mampu menginspirasi kita semua bahwa tidak ada kata terlambat untuk selalu menggali dan mengenali potensi diri untuk mencapai sukses. Tidak perlu melihat waktu dan usia karena sukses bisa dicapai kapan saja.

 



Kamis, 23 Desember 2021

Mengapa 'Happy Ending'?

Teringat masa kecil dulu, saat masih bersama orang tua dan tinggal di desa, tidak setiap saat bisa makan enak seperti anak-anak jaman sekarang. Untuk bisa makan nasi dengan telur saja sudah luar biasa walaupun orang tuaku memelihara ayam dan bertelur cukup banyak. Bukannya pelit atau atau tidak sayang anak, mereka hanya berfikir cerdas untuk mengantisipasi kekurangan bahan makanan dalam jumlah banyak. Orang tuaku lebih memilih menukar telur dengan jenis bahan makanan lain yang nilai gisinya lebih rendah tetapi berjumlah lebih banyak, itulah alasannya. Sehingga ketika suatu hari bisa makan enak seperti nasi dan telur, momen ini menjadi sebuah peristiwa langka dan istimewa hingga cara memakannya pun cukup unik. Di awal kita makan dengan lauk lain terlebih dahulu baru makan telur menjelang detik-detik akhir. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kepuasan maksimal dan seolah merayakan kenikmatan makan telur. Seandainya saja dulu tahu istilah happy ending, mungkin dulu aku akan menamakan perayaan 'happy ending'.

Bicara happy ending, mana yang lebih kamu sukai ketika menonton film, baca novel, menonton sinetron atau drama Korea, happy ending, sad ending, atau cliffhanger ending? Oh, iya mungkin ada yang belum tahu istilah cliffhanger ending. Cliffhanger ending adalah cerita yang menggantung di akhirnya, bahagia tidak, sedih tidak, atau cerita yang tidak jelas endingnya. Ketika aku tanya sebagian besar orang, kebanyakan memilih happy ending dibandingkan sad ending ataupun cliffhanger ending. Walaupun kadang cerita dengan akhir bahagia itu juga terasa membosankan tetapi itulah faktanya, banyak diantara kita yang memilih happy ending dalam menonton sebuah film atau drama.

Sama halnya seperti kehidupan ini bahwa setiap kehidupan layaknya sebuah cerita drama yang layaknya memiliki kisah yang dimulai dengan penderitaan yang penuh luka dan nestapa dan berakhir dengan bahagia. Namun ada kalanya memiliki cerita yang dari awal hingga akhir terus menderita. Atau juga ada yang berawal bahagia dan berakhir nestapa, atau pun ada juga yang cerita yang tidak memiliki kejelasan di akhirnya. 

Sebuah perjalanan hidup seseorang yang diawali dengan penuh perjuangan dan kerja keras diharapkan mampu memiliki kebahagiaan di masa tuanya. Katakanlah seorang anak yang terbiasa hidup sederhana dan penuh tantangan serta banyak mengalami rintangan akan mengambil sikap untuk mempertahankan hidup untuk mencapai kesuksesan di akhir untuk mendapatkan kebahagiaan sempurna di akhir kisah hidupnya. 

Begitupula hampir setiap orang tua akan merasa puas dan bahagia ketika di masa tuanya melihat anak-anaknya sukses dan hidup bahagia. Tentunya, mereka akan merasakan puncak kebahagiaan yang sempurna pula.

Memang sebgian orang akan menganggap bahwa ukuran kebahagiaan adalah kesuksesan. Jadi ketika sukses itu diraih sejak masa muda, artinya seseorang akan selalu merasa bahagia. Namun, ukuran sukes dan bahagia itu sendiri bagi setiap orang tidaklah sama. Ada yang mengukur sukses dari karirnya, dari kekayaannya, dari jabatannya, dari popularitasnya, atau sukses setelah melihat anak-anaknya sukses sehingga disitulah kebahagiaan tercapai. 

Lalu, bagaimana dengan mereka yang baru mencapai sukses ketika berada di akhir saja dan setelah melewati masa-masa sulitnya yang panjang? Apakah mereka tidak mendapatkan kebahagiaan sejak masa-masa perjuangannya? Tentu tidak, karena bagi sebagian orang akan memilih untuk berbahagia setiap saat. Orang-orang ini tentunya bukan tipe orang yang suka menonton cerita happy ending, atau cara makan happy ending sewaktu aku kecil dulu, tetapi mungkin juga tidak. Karena kebahagiaan bagi orang-orang ini bisa didapatkan kapan saja. Tetapi hal ini tidak bisa disamakan dengan menonton film tadi. Tidaklah seru ketika menonton film dari awal hingga akhir penuh dengan kebahagiaan karena tidak memiliki ending yang seru dan cara menikmati hidup tentunya tidak sama dengan cara menikmati cara makan dan nonton film tadi.

Jika memungkinkan, yang bisa kita lakukan adalah bagaimana caranya untuk menciptakan kebahagiaan setiap saat dalam keadaan apapun. Wah, hal ini nampaknya mudah saja diucapkan tetapi sulit untuk dipraktekan. Tetapi tidak ada salahnya kita mencoba untuk menciptakan bahagia kapan saja tidak seperti saat kita menonton drama. Atau kita akan selalu menikmati setiap lekuk liku problematika hidup dengan senyum bahagia dan menganggap itu semua sebagai tantangan yang akan berakhir bahagia. Atau mungkin juga bahagia itu akan selalu tercipta ketika kita mampu bersyukur dengan apapun yang kita miliki. 

#selaluinginmecobabahagiakapansaja

Sabtu, 13 November 2021

Refleksi : Professional Development - Profil Pembelajar Pancasila





Professional Development Kamis, 11 November dengan Mr. Yohanes Tri Tjahyaadi memberikan hal baru khususnya bagi peningkatan pembelajaran abad 21, sebagai kelanjutan Professional Development yang dibawakan oleh Ms. Novi bulan lalu. 

Banyak hal yang disampaikan dengan cukup gambalang oleh Mr. Yo, panggilan akrabnya pada saat presentasi materi tentang survey karakter atau yang sekarang kita sebut Profil Pembelajar Pancasila dengan gaya presentasi yang kocak namun tetap memberikan yang terbaik dalam presentasinya.

Mr. Yo menyampaikan bahwa dulu kita mengenal istilah Pengembangan Pendidikan Karakter (PPK) dan sekarang istilah tersebut berkembang menjadi Profil Pembelajar Pancasil yang memuat 6 poin penting yaitu:

1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia. Yaitu pembelajar yang memiliki akhlak ketuhanan Yang Maha Esa, menjalankan ibadah sesuai agamanya dan berahlak baik kepada sesama manusia dan juga alam semesta.

2. Berkebinekaan Global. Pelajar Pancasila yang berkebinekaan global yaitu pelajar yang tetap menjunjung tinggi budaya luhur bangsa namun tetap mampu berinteraksi dengan budaya lain dan tetap menghargai kebinekaan budaya yang ada di negara kita. Poin penting pembelajar Pancasil dan Berkebinaan Global yaitu: Mengenal dan menghargai budaya, kemampuan berkomunikasi interkultural dan berinteraksi dengan sesama, dan refleksi dan tanggungjawab terhadap pengalaman kebinekaan.

3. Gotong Royong. Yaitu kemampuan pelajar Pancasila dalam melakukan kegiatan bersama-sama atau berkolaborasi dengan sukarela agar pekerjaan terasa ringan. Poin penting dari gotong royong ini adalah kolaborasi, kepedulian, dan berbagi.

4. Mandiri. Yaitu pelajar pancasila yang mampu mengatur dirinya sendiri dalam proses pembelajaran dan pengembangan diri. Poin pentingnya yaitu, kesadaran diri dengan situasi yang dihadapi dan regulasi diri.

5. Bernalar Kritis. Pembelajar Pancasila diharapkan memiliki penalaran yang kritis dalam proses pembelajaran dan mampu menalar secara kritis dan mampu menganalisis informasi secara kualitatif serta kuantitatif. Poin pentingnya adalah, mengolah informasi dan gagasan, menganalisis dan evaluasi penalaran, merefleksikan pemikiran dan proses berfikir, serta mengambil keputusan.

6. Kreatif. Pembelajar Pancasil diharapkan menjadi pembelajar yang mampu menghasilkan karya orisinal yang bermanfaat bagi orang banyak. Poin pentingnya yaitu, menghasilkan gagasan yang orisinal dan menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal.

Selain pemaparan penting tentang profil Pembelajar Pancasila, dalam penjelasannya, Mr. Yo juga memberikan tugas setiap peserta untuk mendesain program pembelajaran berbentuk River of Learning.

Peserta diminta untuk mendesain pembelajaran dengan menggambar sebuah alur sungai di mana setiap Bab materi pembelajaran dalam satu tahun dibuat dalam bentuk perahu yang berada di sungai. Lalu, guru menggambarkan materi sub bab dalam bentuk pohon di samping sungai. Dan poin terpentingnya adalah membuat satu sub bab yang dianggap sesuai untuk siswa melakukan sebuah project yang memiliki profil karakter Pancasila.

Dalam kegiatan tersebut penulis memilih Unit 6: Double Lives yang merupakan materi dengan topik kriminal. Di sini penulis merencanakan untuk memberikan projek kepada siswa dalam bentuk Presentasi hasil wawancara. Rencana teknis atau instruksi yang diberikan kepada siswa adalah:

  1. Peserta didik diminta melakukan wawancara dengan orang terdekat untuk menanyakan beberapa pertanyaan terkait kriminallisasi di daerah sekitar tempat tinggal peserta didik.
  2. Peserta didik menyusun daftar pertanyaan sendiri sebelum melakukan wawancara.
  3. Peserta didik merekam proses wawancara dalam bentuk video.
  4. Peserta didik membuat presentasi hasil wawancara dengan ketentuan sebagai berikut: Membuat introduction yang memuat tujuan wawancara. Menampilkan daftar wawancara. Menampilkan bukti hasil wawancara yang berbentuk video. Menjelaskan proses wawancara. Membuat kesimpulan hasil wawancara.


Tentunya banyak manfaat yang didapatkan dari Professional Development tersebut diantaranya yaitu guru sebagai peserta akan lebih memahami perubahan yang terjadi dengan kurikulum nasional yang dalam wacana akan melakukan perubahan kurikulum yang menyesuaikan dengan pembelajaran abad 21 dan tetap menjunjung tinggi karakter pembelajar Pancasila. Dengan kegiatan tersebut guru dapat mengembangkan program pembelajaran dengan enam poin penting karakter pembelajar Pancasila yang dijelaskan di atas. 

Dalam presentasinya Mr. Yo telah memberikan materi terbaiknya dan mampu membuat kami para peserta banyak belajar serta beraktifitas. Namun sebagai evaluasi bahwa materi presentasi yang ditampilkan dalam bentuk power point presentation yang merupakan materi dari sumber aslinya, tulisan terlalu kecil sehingga kurang jelas dibaca oleh peserta. Mungkin akan lebih baik lagi jika Mr. Yo mengetik atau membuat ulang presentasinya sehingga akan lebih menarik dan jelas untuk dibaca.