Sabtu, 22 Mei 2021

Problema Anak Tengah, Middle Child Syndrome


“Children are our most valuable resource.” – Herbert Hoover

Kali ini aku akan mencoba sedikit bercerita khusus tentang anak-anakku, khususnya anak keduaku. Bukan karena dia begitu spesial bagiku karena semua anak-anakku memang sangat spesial. Banyak hal yang membuat kami terus belajar dari setiap kejadian dalam mendidik dan membesarkan mereka. 

Suatu pagi, sewaktu aku sedang rapat verifikasi soal via zoom, tiba-tiba anak keduaku keluar dari kamarnya dengan muka seperti ketakutan dan mengeluh sesak nafas. Lansung saya off camera dan meminta dia duduk di kursi di depanku. Dengan sigap aku mencari semacam minyak telon atau kayuputih untuk sekedar dioleskan di telapak tangannya atau pun kakinya sambil dipijit-pijit. Yang dia butuhkan adalah ketenangan, kenyamanan, bahkan sentuhan sehingga ketika dioleskan minyak tersebut dia akan merasakan sentuhan yang memberikan ketenangan. Aku hafal betul dengan kondisi anakku karena kejadian seperti ini bukan yang pertama kali terjadi.  Aku ajak dia senyum sambil mengelus tangannya dengan minyak  dan aku suruh dia duduk tegak dan sedikit-sedikit tarik nafas. 

Perlahan-lahan aku masuk ke alam pikirannya dengan memberikan bisikan kata yang menenangkan di dekat telinganya bahwa semua akan baik-baik saja. Semua orang punya masalah dan setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. 

Selama ini dia sering merasa bahwa dia mempunyai banyak masalah, selalu menjadi beban keluarga dan memiliki sifat lebih jelek dibandingkan saudara-saudaranya. Tetapi aku selalu menjelaskan padanya bahwa setiap anak memiliki keistimewaannya masing-masing, begitu pula kelemahannya. Aku bilang bahwa dari keempat-empatnya anakku tidak ada yang terlahir dengan sifat dan karakter yang jelek saja maupun baik saja. Semua anak dilahirkan dengan berbagai karakter yang diturunkan dari kedua orang tuanya dan bahkan mungkin membawa sifat kakek dan neneknya. Jadi sudah dipastikan masing-masing anak memiliki kelebihan dan kekurangan sama seperti karakter manusia pada umumnya.

Selain dari sudut genetika, ada juga karakter yang dibentuk dari pendidikan orang tua dan lingkungan di mana dia berada dan bersosialisasi. Pengaruh lain juga dari kondisi sosial ekonomi orang tua saat dilahirkan dari anak pertama, kedua, ketiga, dan keempat yang berbeda-beda. Sebagai latar belakang keluargaku yang dari merangkak hingga jongkok lalu berdiri, tetunya membawa pengaruh penting bagi setiap anak yang dilahirkan. Karena hampir bisa dipastikan bahwa setiap kelahiran anak-anakku memiliki background kondisi yang berbeda-beda. 

Anak pertamaku yang lahir di saat jaman krisis moneter di tahun 1998 dengan kondisi ekonomi keluargaku yang saat itu juga tidak menentu, tentunya kondisi ini yang memprihatinkan dan banyak sekali keterbatasan. Namun sebagai anak pertama laki-laki yang terlahir sangatlah ingin memberikan yang terbaik bagi anak pertama ini. Walaupun mungkin segala kebutuhan tidaklah bisa terpenuhi, tapi kami sebagai orang tua mengingnkan anak ini untuk mendapatkan sesuatunya sesuai kebutuhanya. 

Berbeda dengan anak kedua, yang kebetulan perempuan. Anak kedua kami lahir selang 4 tahun dari kelahiran kakaknya. Hadirnya bayi perempuan di keluarga kami menjadi pelengkap kebahagiaan setelah anak pertama terlahir laki-laki. Seandainya anak kami cuma dua, maka lengkaplah dengan sepasang anak laki-laki dan perempuan. Begitu pula kondisi ekonomi keluarga juga sudah meningkat setapak lebih baik dari kelahiran anak pertama. Walaupun tidak semua kebutuhan dapat terpenuhi, namun setidaknya sudah lebih baik pada kondisi anak kedua ini lahir. Hal ini tentunya banyak faktor yang membentuk karakternya pula.

Tetapi permasalahan lain muncul ketika empat tahun kemudian lahirlah anak kami yang ketiga, dan perempuan. Anak kedua kami yang berumur empat tahun harus mempunyai seorang adik perempuan. Hal ini bisa menjadikan sebuah kebaikan buat sang kakak, namun juga bisa sebaliknya. Baiknya, ketika si adik bisa menjadi teman bermain yang satu gender dengan kakanya. Mereka bisa bermain bersama dengan mainan yang sama. Atau mereka bisa bermain peran dalam permainannya dengan menggunakan pakaian perempuan dalam sebuah drama-dramaan anak-anak. Namun ketika mereka sedang tidak bisa bermain bersama, justru persamaan gender dengan usia yang berbeda juga bisa menimbulkan masalah baru. Persaingan dalam hal mainan, pakaian, perhatian pada orang tua dan tentunya sang kakak akan merasa tersisih dalam hal perhatian. Ketika suatu saat sang adik dibelikan mainan baru atau pakaian baru sedang sang kakak tidak, malapetaka bisa terjadi. Kalaupun kami berdalih bahwa, 'dulu waktu kamu kecil, kamu juga dibelikan mainan yang sama, atau pakaian yang sama seperti adikmu,' tapi tentunya dia sudah lupa dan tidak mau mengerti. Menurutnya, kita sebagai orang tua telah berlaku membeda-bedakan. Mungkin itu yang dinamakan middle child syndrome.

Menurut artikel yang saya baca dari https://id.theasianparent.com/middle-child-syndrome  bahwa anak tengah akan mengalami middle child syndrome karena orang tua lebih memperhatikan anak sulung dan memanjakan anak bungsu. Sebagai pelampiasan dari rasa diabaikan tersebut, anak tengah akan memiliki kecenderungan untuk berulah. Membaca ini, aku lantas berfikir apakah kami sebagai orang tua sudah memperlakukan anak kedua kami tersebut seperti itu? Kami mencoba merefleksikan diri apa yang sudah kami lakukan selama ini. Sebagai orang tua, kami merasa sudah semaksimal mungkin berlaku adil pada anak-anak dan sesuai porsinya. Tidak ada yang dilebih-lebihkan baik anak sulung, anak kedua, ataupun anak bungsu. Tapi itulah yang terjadi seperti yang disampaikan oleh artikel itu, mungkin secara tidak sadar, kami melakukan itu, lebih memperhatikan si sulung dan memanjakan si bungsu, walaupun itu terdengar terlalu kasar. 

Kemabali ke anak keduaku, yang sementara kami sebut sebagai anak tengah, karena anak keempat lahir setelah anak ketiga kami berumur 10 tahun. Jadi bisa dikatakan, karakter anak kedua kami menjadi anak tengah sudah terbentuk sebelum si anak keempat kami lahir.

Kalau berkaca pada artikel di atas, ada hal yang menghawatirkan yang menyelinap di dadaku. Apakah betul nantinya anak kami tersebut akan benar-benar berulah? Tetapi saya paham betul perkembangan anakku. Justru dari sifatnya yang memiliki kepekaan lebih itulah terlihat ada hal-hal positif yang muncul. Dia cenderung ingin memperhatikan lebih pada orang lain dibandingkan pada dirinya sendiri. Untuk itu dia sebenarnya memiliki keistitimewaan yang bisa dijadikan bekal di masa mendatang. Kami harus optimis dengan keadaan anak tersebut. 

Dalam perilaku yang dapat diamati setiap hari, dia sering tidak tega melihat orang lain menderita termasuk terhadap binatang sekali pun. Hal inilah yang justru menjadi strength buat dia. Walalupun kepekaannya yang berlebih kadang membuatnya kurang mempedulikan dirinya sendiri dan sering menjadi gelisah hingga menangis. Di situlah tantangan kami untuk bisa membesarkan hatinya dan tetap optimis menghadapi masa depannya.  

Hanya dibutuhkan kelembutan dan ungkapan-ungkapan positif yang membukakan pikiran sehingga dia akan semakin membaik. Mungkin sedikit keterbukaan bahwa pada saat tertentu dia merasa resah dan gelisah yang kadang tidak jelas apa penyebabnya. Bahkan suasana sendu dari sebuah alunan musik pun bisa membuatnya menangis tanpa sebab. Hal itu sering diungkapkannya dan kami orang tua cukup tahu saja kalau dia sedang mengalami seperti itu. 

Begitu banyak peristiwa yang terjadi selama mendidik anak-anak sendiri di rumah. Semua orang tua atau pun keluarga pasti pernah mengalaminya dan tentunya dengan kisah problema yang berbeda. Tetapi tentunya kita bisa belajar dari semua peristiwa dan keistimewaan-keistimewaan yang ada pada anak-anak kita. Karakter yang tampak pada anak-anak kita merupakan sebagian besar olahan dan ramuan kita dalam mendidiknya sejak kecil. ayosugiryo.blogspot.com

 #FromHomeWithLove




 

Minggu, 16 Mei 2021

Mengapa Covid19 Harus Singgah ke Rumahku?


Awal Ramadan seharusnya hadir begitu indah diwarnai dengan wajah sumringah karena kami dapat beribadah dengan penuh barokah. Tetapi tidak untuk Ramadan kali ini. Hari pertama datangnya Ramadan, waktu itu tanggal 13 April 2021, merupakan hari kedua kami berempat sedang menjalani isolasi mandiri setelah sehari sebelumnya kami menjalani tes PCR di puskesmas setempat. 

Semula berawal dari tanggal 3 April, anak ketiga kami mengeluh panas yang diikuti tenggorokan sakit. Kami belum berfikiran untuk ke dokter, Kami masih berusaha untuk membelikan obat turun panas. Beberapa hari kemudian kakaknya mengikuti jejak sang adik dengan gejala yang sama. Hari Selasa keduanya kami bawa ke klinik, dan diberikan obat lengkap. Selama masa pengobatan, kondisi anak tidak semakin membaik. Kepala sering pusing dan badan lemas. Dengan terpaksa dia sering meninggalkan zoom meeting kelas online dan banyak tugas tidak tersentuh. Pernah dia menangis di depan laptop dan memukul kepalanya sendiri dengan telapak tangannya. Ketika aku tanya dia malah semakin keras tangisannya. Rupanya dia stress karena memaksakan diri untuk bisa sekolah tetapi kondisi fisik tidak mendukung.

Keesokan harinya, Kamis, 8 April, giliran istriku harus dibawa ke klinik juga. Batuk dan kepala pusing serta badan nggreges mulai melanda tubuhnya. Bertiga mereka harus menjalani pengobatan dengan gejala yang hampir sama. Keluhan demi keluhan mulai dirasakan. Lemas dan tidak bisa membaui dan merasakan enaknya masakan. Kami curiga. Jangan-jangan Covid19 sudah mampir ke rumahku. 

Dengan kondisi ini, kami merasa perlu untuk mengetahui apakah kami benar-benar dalam pengaruh Covid19?  Virus yang sedang viral dan ditakuti oleh semua orang sedunia. Tidak tanggung-tanggung, sedunia. Hingga semua negara percaya bahwa Covid19 memang benar-benar ada dan berbahaya. Sudah ratusan jiwa melayang gara-gara Covid. Lalu, apakah kami juga harus kecipratan virus ini juga, yang nantinya bisa merenggut nyawa kami? Ah, tidak! Ini pasti bukan si Covid.

Tetapi jawaban teman dokter kami ketika kami bertanya tentang hal ini, telah mengantarkan kami untuk bertandang ke puskesmas. Dia menyarankan kami untuk segera diswab. Malam itu kami serumah tidak bisa tidur. Anak ketiga kami sempat panik dan akan dibawa ke rumah sakit karena mengeluh macam-macam dan tidak mau makan. Tapi kami masih bertahan untuk besok saja diperiksanya. Kenapa ke puskesmas, karena kalau memang benar anakku harus diswab, tentunya kami kesulitan untuk pendanaannya, kalau harus bayar tes PCR secara mandiri di rumah sakit swasta. 

Sabtu, 10 April, kami mencoba untuk memeriksakan dan meyampaikan keluhan anak ketiga kami tersebut. Di mana semalam sebelumnya aku pun mulai ada gejala batuk. Setelah sampai di Puskesmas, kami bukannya diperiksa, tatapi hanya  diberikan bebeapa pertanyaan, dan dari jawaban-jawaban kami, petugas berkesimpulan bahwa kami berempat sekeluarga harus diswab pada hari Senin 12 April. Untuk pendataan dan pendaftaran, disampaikan akan ada petugas yang menghubungi nomor WA kami. 

Kami sempat berfikir dan mengeluhkan beberapa hal sementara kondisiku sudah mulai batuk, dan yang lainnya masih bergejala yang sama. Kenapa harus hari Senin, pikir kami. Tapi kami masih berfikir beberapa kemungkinan diantaranya petugas swab yang tidak setiap saat ada, apalagi ini hari Sabtu, yang hanya buka sampai jam sebelas.

Hari Senin, kami berangkat ke Puskesmas dengan rute masuk puskesmas seperti yang sudah diinformasikan sebelumnya, yaitu masuk melewati pintu gerbang samping Puskesmas. Kami sudah mulai berfikir buruk pada diri kami sendiri. Mungkin memang sudah seharusnya begini kalau orang yang dianggap memiliki penyakit menular akan semakin dibatasi untuk berinteraksi dengan orang lain. Tapi kami juga sadar kalau memang benar kami terpapar, bukannya kami juga tidak seharusnya menjadi agen penyebaran virus juga.

Kami diswab bergantian, ada juga pasien lain. Selesai swab, kami diberikan surat keterangan untuk isolasi mandiri selama empat belas hari. Surat tersebut tentunya sangat penting sebagai dasar untuk berbagai keperluan. Pertama, kami harus menginformasikan kondisi kami ke lingkungan setempat (RT) atau ke instansi/sekolah di mana kami harus bekerja. Dalam ketegangan di masa menunggu hasil swab, kami berusaha untuk menenangkan anggota keluarga dan tetap tenang menghadapi ini. Kami berdoa dan kami tetap yakin bahwa virus yang kami alami ini virus biasa dan kami akan terlepas dari kungkungan isolasi mandiri.

Keesokan harinya, kami berusaha menghubungi petugas puskesmas namun belum juga ada hasil. Kami harus bersabar hingga Kamis pagi. Kabar yang kami tunggu-tunggu itu pun datang. Pesan WA dari petugas puskesmas yang tidak kami harapkan pun harus kami terima saat itu juga. Kami berempat semuanya positif terpapar Covid19. Kami semua diam dan membeku sambil merenungi berbagai hal.

Dalam perenungan itu ada semacam rasa berdosa sehingga anak-anak kami ikut menderita karena Covid. Kami para orang tua yang setiap hari harus mobile ke luar rumah, bekerja, mencari keperluan sehari-hari, atau bahkan harus bertemu orang untuk urusan pekerjaan dan lain-lain. Kami menduga-duga bahwa kami berdua lah yang menjadi agen virus yang menulari anak-anak yang hampir tidak pernah ke mana-mana selama masa pandemi ini.

Sempat juga istriku berburuk sangka sama vaksin yang disuntikan ke tubuhnya pada Selasa, 6 April, dan itu merupakan vaksin yang kedua. Waktu itu dia dalam kondisi tidak begitu fit, dan menurut penilaiannya sendiri justru virus itu berasal dari vaksin tersebut. Ah, itu juga baru merupakan analisa sederhana dalam suasana hati yang baper karena perasaan berdosa tadi.

Lalu siapa yang membawa virus ke rumah? Apakah tiba-tiba saja virus yang beterbangan di udara dan masuk ke hidung atau mulut kami saat berjalan atau naik kendaraan? Atau mugkin melalui benda-benda yang kami sentuh di tempat-tempat umum? Atau memang langsung ditularkan oleh seseorang yang kebetulan tanpa sadar bertemu dengan kita? Semua itu selalu menjadi pertanyaan kita di saat-saat seperti ini. Tetapi bukannya kami sudah melakukan protokol kesehatan dengan baik ketika bekerja dan kemanapun kami beraktifitas? Cuci tangan, pakai masker, jaga jarak, semua semaksimal mungkin kami lakukan. Hingga akhirnya kami semakin merasa berdosa pada anak-anak kami yang selama sekolah online ini tidak pernah pergi ke mana-mana sedangkan kami berdualah yang masih beraktifitas ke luar rumah. Entah melalui apa pun  sangatlah mungkin jadi agen pembawa virus ke rumah kami sendiri. Kami semakin merenung dan bersedih. Sepertinya, kami tidak bisa memaafkan diri kami sendiri.

Pada intinya, tidaklah mudah bagi kami untuk begitu saja menerima hasil ini. Walaupun kami semua bergejala namun kondisi kami masih tergolong baik. Kami masih bisa makan walau tidak enak, karena tidak bisa merasakan makanan dan aroma masakan. Kami masih pusing batuk dan lemas. Yang masih jadi pemikiran kami, mengapa virus viral itu harus singgah ke rumahku, menyerangku, istri dan anak-anakku? Lalu, apa yang harus kami lakukan di dalam rumah hingga empat belas hari ke depan setelah tanggal 12 itu? Siapa yang akan memenuhi kebutuhan sehari-hari kami ketika persediaan bahan makanan telah habis?

Dalam kegelapan pikiran itu, kami teringat karena masih ada anak pertamaku yang tidak mengalami gejala apa-apa seperti kami berempat, yang artinya dia masih aman untuk sekedar ke luar rumah dan disuruh beli bahan makanan atau keperluan lain. Tetapi pemikiran itu pun tidaklah lama, karena tiba-tiba ada pesan dari petugas puskesmas, bahwa semua anggota keluarga yang ada di rumah harus menjalani swab juga. Besoknya, 16 April anak pertama kami diswab, dan itu artinya tidak ada lagi seseorang yang bisa keluar rumah untuk sekedar beli keperluan sehari-hari khususnya bahan makanan. Mulai hari itu lengkap sudah kami serumah diisolasi mandiri. 

Akhirnya kekhawatiran kami mulai terjawab setelah ada pesan dari petugas puskesmas yang mengabarkan bahwa akan ada petugas dari pihak kelurahan untuk mengantar sembako. Lalu, beberapa rekan kerja, teman, dan warga setempat dan kantor yang sudah mengetahui keberadaan kami mulai berdatangan mengirimkan berbagai keperluan dari makan, alat kebersihan, makanan kering dan basah. Mereka berdatangan hingga ke depan gerbang pintu rumah. Kami hanya bisa mengucap terimakasih sambil melambaikan tangan dari dalam rumah. Banyak yang menawarkan jasa untuk keperluan kami agar jangan sungkan menghubungi dan banyak yang siap membantu. Kami hanya bisa mengucap syukur dan berdoa atas kebaikan semua pihak.

Kami tidak hanya merenungi nasib hingga Covid19 itu semakin betah di rumah kami. Kami melakukan berbagai upaya peningkatan imun. Selain minum obat dan vitamin, kami berusaha untuk makan bergizi, berjemur, dan hal lain yang kami lakukan selama Covid19 bersarang di rumah kami. Kami juga tetap bersyukur sehingga ibadah di bulan Ramadan ini tetap bisa kami lakukan semampu kami walaupun hanya di rumah saja. Beberapa kali kami mencoba untuk berpuasa, namun kami membutuhkan banyak cairan sehingga sering gagal puasa karena batuk yang mendera juga. Tentunya kami juga berusaha untuk tetap berfikir positif dengan keadaan kami ini walaupun tidaklah mudah. 

Hingga empat belas hari pun berlalu, sebagian gejala masih kami rasakan. Terutama aku sendiri batuk dan sesak nafas justru semakin menggila. Kami pun berusaha menghubungi teman dokter kami dan juga puskesmas. Semua obat dari puskesmas kami sampaikan jenisnya ke teman dokter kami. Kami masih disarankan untuk tetap mengkonsumsi obat tersebut karena menurut teman dokter kami juga cukup baik. Karena kondisi kami masih belum bisa dikatakan sembuh total, maka kami belum diberikan surat bebas isolasi, dan menurut sarannya kami harus menunggu beberapa hari lagi, hingga tanggal 30 April baru kami mendapat surat tersebut. Itu artinya kami sudah boleh beraktifitas seperti semula walaupun beberapa gejala masih ada dan aku pun masih sering batuk. 

Banyak pihak yang bertanya, kenapa tidak diswab ulang sehingga tahu persis bahwa kami sudah negatif dan tidak berbahaya bagi orang lain. Kami pun serumah bertanya tentang hal itu. Kami tidak dapat menolak karena memang mungkin itu sudah menjadi kebijakan pihak puskesmas untuk tidak melakukan swab kedua bagi kami. Kami mendapat informasi bahwa memang tidak ada swab kedua, dan menurut informasi dari puskesmas bahwa setelah empat belas hari, virus sudah melemah dan tidak akan menular. Kami tidak tahu persis apakah memang betul seperti itu, kami hanya pasrah dan akhirnya harus menerima surat bebas isolasi mandiri tersebut setelah delapan belas hari masa isolasi mandiri. Kami mengirimkan surat keterangan bebas isolasi tersebut ke pimpinan di instansi kami masing-masing. Sementara aku mendapat perpanjangan WFH hingga dua hari ke depan dan begitu pula istriku. 

Hari pertama aku masuk kerja, aku masih mengisolasikan diri di sebuah ruang kelas di lantai tiga dan tak seorangpun yang aku harus temui. Secara formal aku berangkat kerja, tapi tak seorang pun aku temui selama dua hari aku bekerja. Aku pergi ke toilet ketika lorong ruangan terlihat sepi, dan aku pun sholat di ruang tersebut. Hingga aku catat semua barang yang pernah aku pegang dan tempat mana saja yang aku singgahi. Mungkin aku berlebihan tapi itulah yang aku harus lakukan. Hal ini tentunya akan sangat penting aku lakukan untuk mengobati sakitku dan juga mentalku yang kadang down dengan kondisi ini. Mungkin virus ini sudah pergi dari tubuhku, namun rasa takut bertemu orang masih tetap ada. Kadang memang bukan dari diriku sendiri, orang yang hendak menemuiku pun serasa canggung dan berusaha menghindar atau memberikan jarak. Aku sadar dan maklum betul dengan kondisi ini. Dan aku harus berbesar hati walau terasa sedikit sakit. 

Lain halnya dengan istri, begitu hari pertama kali masuk kantor, dia langusng di tempat seperti biasa, tidak ada isolasi di tempat kerja. Namun apa yang dia rasakan sungguh menyiksa. Entah itu datangnya dari diri sendiri maupun dari orang lain sama seperti aku. Dia menyaksikan beberpa teman sengaja menghindar ketika berjalan melewatinya. Tanpa harus menghindar pun, dia sadar sendiri bahwa sebenarnya semuanya tampak tidak nyaman. Dia juga berkehendak untuk isolasi di tempat kerja, namun tidak memungkinkan, selain membutuhkan tempat juga, banyak berkas pekerjaan yang harus dia mintakan tandatangan dan koreksi. Itulah yang menyulitkan.

Dari pengalaman bergelut melawan Covid19 yang rupanya harus mampir ke rumahku itu, kami tak henti-hentinya tetap bersyukur atas segala nikmat Allah yang luar biasa ini. Kami semuanya masih dalam lindungan Allah dan masih diberikan nikmat hidup. Mudah-mudahan kami tetap bisa bersyukur dan beribadah untuk menebus bulan Ramadan tahun ini yang tidak banyak yang bisa kami lakukan. Bulan penuh rahmat yang selalu kami nanti setiap kehadirannya. Kami menganggap ini sebuah ujian yang patut kami syukuri karena pada akhirnya kami telah mampu melewati masa pahit itu. Doa kami juga semoga Covid19 ini tidak perlu mampir ke rumah teman-teman kami yang sudah berbaik hati dan tidak perlu singgah ke rumah sisapapun juga. Walaupun kami sudah putus hubungan sama Covid19, namun tidaklah enak untuk menyandang gelar si mantan Covid ini. Serasa aib telah menghinggapi perasaan kami yang sangat lemah menghadapi cobaan ini.  Kini Ramadan telah berlalu dan berlalulah Covid19 dari muka bumi ini.

Mengenang Covid19 yang sempat mampir ke rumah kami di bulan Ramadan.

#parenting
#covid19


Sabtu, 01 Mei 2021

Belajar dari Perilaku Hewan pada Momen Hari Pendidikan Nasional


Setiap awal Mei kita bangsa Indonesia akan selalu mengenang nama besar seseorang yang tidak pernah luput dari ingatan kita yaitu Ki Hajar Dewantara. Sosok tokoh pendidikan nasional asal Yogyakarta ini meninggalkan begitu banyak warisan bagi dunia pendidikan nasional, Kita yang sekarang ini hidup dalam kemerdekaan dan diberikan amanat pendidikan sebaiknya menyadari bahwa pendidikan merupakan hak bagi setiap individu dan begitu pula kita memiliki kewajiban untuk mendidik diantara kita. Sehingga warisan yang ditinggalkan oleh Ki Hajar Dewanatara tidak akan hilang ditelan jaman yang setiap saat akan mengalami perubahan yang tak terhingga cepatnya.

Banyak yang berfikir bahwa seseorang dapat dikatakan mendapat pendidikan ketika mereka sudah pernah mengenyam pendidikan formal dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Hal ini nampaknya dapat dibenarkan. Karena tuntutan pendidikan formal ini menjadi penting sebagaimana tadi disampaikan merupakan hak setiap individu untuk dapat berkembang dan menyesuaikan perubahan. Namun tidak semua hal yang berbau pendidikan akan dapat diperoleh di dalam pendidikan formal. Karena masih ada pendidikan lain yang didapatkan dari luar sekolah. Diantaranya yaitu pendidikan keluarga dan pendidikan masyarakat yang tak dapat dikesampingkan peranannya. Bahkan pendidikan keluarga bisa menjadi pilar yang kokoh bagi mutu pendidikan dalam arti luas. 

Momen-momen penting dalam masyarakat maupun keluarga hendaknya menjadi sarana untuk belajar. Setiap kejadian yang terjadi di sekitar kita bisa kita jadikan pelajaran dan pendidikan bersama. Banyak kejadian kecil yang tampak tidak penting namun kalau kita mau merenungkan pesan moral dari setiap kejadian tersebut kadang bisa menjadikan hal penting tak terduga yang sangat berguna bagi peningkatan kualitas pendidikan kita.

Mungkin hal kecil yang akan saya kisahkan ini juga bisa menjadi materi pembelajaran berarti bagi keluarga kami dan jika mungkin bagi para pembaca di mana saja. Dimana kita bisa belajar dari kejadian yang belum kita duga sebelumya. 

Bagi sebagian orang termasuk saya, binatang piaraan bukan menjadi alternatif kami untuk berbagi kasih terhadap sesama ciptaan Tuhan. Tetapi entah kenapa Tuhan selalu mengirimkan seekor kucing di tengah-tengah keluarga kami. Kadang bisa tiba-tiba ada kucing di depan rumah yang seolah menghiba untuk bisa menjadi anggota keluarga kami. Akhirnya kami pun pungut anak kucing hingga akhirnya beranak-pinak. 

Hari itu seekor anak kucing di rumah kami sudah memasuki masa dewasa dan untuk kehamilan pertamanya sudah hampir memasuki saat-saat melahirkan. Saya sudah membayangkan betapa di rumah kami akan berkeliaran anak kucing yang akan mengotori rumah dan sekelilingnya. Anak kucing nantinya akan bertengger di mana saja dan menjadikan rumah kami serasa jijik oleh kehadiran binatang. Dalam kebimbangan kami, sesuatu terjadi. Di atap rumah, terlahirlah seekor anak kucing dari induk yang lain, mungkin kucing liar yang berkeliaran di sekitar perumahan. Seharian anak kucing tersebut mengeong dan induk kucing entah ke mana. Kami sangat kesal dengan suara bayi kucing yang tak berhenti-hentinya mengeong. Lain halnya dengan anak perempuan kami. Mereka merasa bersedih dan menghendaki saya untuk segera menyelamatkan anak kucing tersebut. Awalnya kami kesulitan karena anak kucing tersebut berada di eternit dan susah dijangkau. Akhirnya kami menemukan sedikit celah hingga anak kucing berhasil diturunkan.

Anak perempuanku menangis haru dan segera berusaha menyelamatkannya. Namun kami berfikir kami membutuhkan susu dan botol susu khusus bayi kucing. Kami berusaha kontak ke tetangga belakang rumah, dengan kebaikannya, memberikan botol tersebut. Bayi kucing pun terselamatkan dan diberikan susu seadanya, susu anakku. Besoknya, istriku mencoba meminta bantuan teman yang tinggal di pusat kota untuk membawakan susu formula khusus kucing. Siangnya, dengan kebaikannya pula, dia megantarkan beberapa bungkus susu formula tersebut dan kucing terselamatkan. Alhasil, tangis kucing pun sudah tidak terdengar lagi dan semalaman bayi kucing tersebut dibawa tidur di kamar anakku. 

Keesokan harinya lagi, istri saya langsung order online untuk memesan susu kucing untuk persediaan. Bayi kucingpun sudah lebih baik dengan asupan susu kucing, walaupn kadang masih juga mengeong. Selain mengamati keadaan bayi kucing tersebut, kami juga mengamati tingkah si kucing dewasa yang ada di rumah yang sedang hamil tua terebut. Dia nampak gelisah juga mendengar tangis bayi kucing, hingga mondar-mandir ingin memasuki kamar anakku. Kami sempat melarang kucing tersebut untuk masuk karena takut akan menyakiti si bayi kucing. Terus terang kami sempat berprasangka buruk terhadap kucing dewasa tersebut. Namun sesuatu tejadi dan kami semua tak percaya menyaksikan keajaiban ini. Ketika kami mencoba peruntungan membawa bayi kucing tersebut ke Harimau (nama kucing dewasa yang sedang hamil itu), dan mencoba untuk menetekkannya, sungguh di luar dugaan kami bahwa si Harimau begitu sayangnya memberikan air susunya ke bayi kucing tersebut dan si bayi pun menyusunya dengan lahap. Kami semua tak percaya dan anak perempuanku tak tahan untuk membendung air matanya melihat pemandangan ini. 

Beberapa saat setelah Harimau menyusui, ternyata sesuatu terjadi lagi. Si Harimau kontraksi dan melahirkan anaknya sendiri. Seekor bayi kucing terlahir dari rahim Si Harimau berwarna putih hitam seperti sapi. Sunguh manis, tapi kami melihat keanehan bahwa si bayi tersebut tampak tidak seaktif anak kucing lain yang baru lahir. Kami mempredikisi dia terlahir prematur sehingga keesokan paginya si bayi yang baru lahir tersebut menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kami tidak tahu tindakan kami itu dapat dibenarkan atau tidak, tapi kami hanya mencoba untuk menyelamatkan si bayi kucing yang baru lahir. Sungguh kuasa Tuhan yang luar biasa atas perjuangan Harimau yang merelakan dirinya untuk melahirkan anak sendiri secara prematur dan menyelamatkan anak bayi kucing lain seperti anak sendiri. 

Satu hal lagi yang menjadikan kami semakin kagum terhadap Si Harimau, di tengah malam, dia berusaha memindahkan bayi kucing tersebut ke tempat yang menurutnya lebih nyaman. Beberapa kali dia memindahkan dan menyusui bayi kucing dengan lembut dan penuh kasih sayang hingga menidurkan si bayi di pelukannya. Kami tidak membayangkan bila hal ini terjadi sama manusia. Mungkinkah ada manusia sebaik si Harimau, kucing yang telah menyelamatkan bayi kucing lain dan merelakan anaknya sendiri lahir prematur dan mati?

Pelajaran ini sungguh berharga. Ternyata di dunia ini ada hewan yang berperilaku sungguh mulia dan tidak bisa kami terimakan di akal kami. Kami tidak tahu apakah memang instink semua binatang seperti itu atau memang Tuhan sengaja mengirimkan kami seekor binatang agar kami dapat belajar terhadap mahluk ciptaan Tuhan selain manusia. Kalau kucing saja bisa memberikan pelajaran berharga tentang kasih sayang apalagi manusia. Kami harus bisa mengambil pelajaran dari kejadian kecil ini. Bahwa kami harus bisa memperlakukan sesama dengan baik termasuk ciptaan Tuhan yang lain. Maka kami berkesimpulan bahwa belajar dari apa yang kita lihat, alami, dan dari siapa saja termasuk binatang sekalipun.








Rabu, 28 April 2021

Guru PNS Yang Mantan TKW






 Wanita inspirator ini bernama Suhardiyani atau lebih dikenal dengan panggilan Suha Laoshi. Dia dulunya hanya seorang ibu rumah tangga yang pernah mengalami masa-masa sulit bersama keluarga kecilnya di awal tahun 1998. Adalah pengalaman hidupnya yang pahit yang telah membawanya menjadi seorang guru PNS. Hingga pada masa akhir beliau menjadi guru di sekitar tahun 2015 dia telah mampu menginspirasi beberapa siswanya hingga melanjutkan pendidikan di China untuk belajar bahasa Mandarin. Suhardiyani adalah seorang guru bahasa Mandarin di SMA Negeri 1 Purwokerto dari tahun 2004 hingga 2015 yang karena cara mengajar dan mendidiknya mampu menginspirasi para siswanya untuk mengikuti jejaknya.

Berawal dari kekisruhan negeri ini di awal tahun 1998, Suhardiyani yang waktu itu hanya seorang ibu rumah tangga namun sebenarnya mempunyai skill dalam bahasa Inggris itu harus merelakan dirinya untuk membantu sang suami untuk menyelamatkan ekonomi keluarga. Suaminya yang waktu itu bekerja di sebuah perusahaan swasta harus mengalami PHK karena perusahaan terpaksa gulung tikar. Awalnya sang suami terlebih dahulu mendaftar menjadi TKI di Malaysia namun mengalami kegagalan karena hasil tes medikal tidak lolos.  Dengan berat hati ia harus rela meninggalkan suami dan anak pertamanya waktu itu baru berumur 14 bulan untuk mencari peruntungan di negeri Meteor Garden (Taiwan) dengan harapan dapat menyelamatkan perekonomian keluarga. Komitmen ini dengan terpaksa diambil bersama suami karena dengan kondisi terpaksa di mana sang suami sangat kesulitan untuk mencari pekerjaan di tahun itu setelah masa PHK. Bahkan untuk menjadi seorang penjaga toko atau salesman pun sangatlah sulit . Saat itu hampir semua perusahaan sedang mengalami pailit dan berusaha memperketat jumlah karyawan. 

Selama hampir dua tahun Suhardiyani menjalankan niat baiknya menjadi TKW di Taiwan. Dibalik kepedihan dan tangisnya harus berpisah dengan anak dan suami, dia mengalami keberuntungan setidaknya mendapatkan seorang majikan yang baik yang juga dapat membimbingnya untuk bisa menjadi orang baik pula, Suhardiyani mengambil sisi positif dari pengalaman pahit ini untuk mempelajari banyak hal dan salah satunya dia mampu menguasai bahasa Mandarin dengan cukup baik. Di mana mempelajari bahasa asing merupakan kesenangan dan keahlian yang dimilikinya sebelum berangkat menjadi TKW.

Sepulang dari Taiwan, Suhardiyani mencoba memanfaatkan kemampuannya dalam bidang bahasa terutama bahasa yang baru dikuasainya yaitu bahasa Mandarin. Dia mencoba untuk menjadi seorang pengajar di sebuah lembaga pendidikan non formal. Karena kepiawaiannya dalam bahasa, tanpa harus melamar pekerjaan ke sana kemari, Suhardiyani banyak diminta lembaga pendidikan untuk menjadi pengajar. Suhardiyani yang tanpa memiliki ijazah guru, pernah diminta mengajar bahasa Inggris di sebuah SD dekat rumah. Lalu diminta mengajar di sebuah SMA Swasta di kota Purwokerto, dan terakhir, dia diminta untuk mengajar di SMA Negeri 1 Purwokerto. Akhirnya sejak tahun 2004 Suhardiyani mengabdikan dirinya untuk menjadi pengajar di sekolah tersebut. 

Mungkin Tuhan sudah menggariskan kehidupannya untuk menjadi seorang guru PNS. Sesuatu yang tidak pernah dia impikan sebelumnya. Karena baginya mengerjakan sesuatu ketika sesuatu itu telah menjadi passion-nya akanlah menghasilkan sesuatu yang baik. Hingga pada tahun 2005 ada pendataan guru secara nasional dan di tahun 2008 suhardiyani yang mantan TKW di Taiwan dan hanya berijazah SMA telah diangkat menjadi seorang guru PNS. Memang terdengar aneh dan banyak yang mempertanyakan. Tapi itulah yang terjadi. Suhardiyani menjadi seorang guru PNS di SMA Negeri favorit di Purwokerto. Selama menjadi guru di sana dia banyak mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Beberapa kali mengikuti pelatihan di P4TK Bahasa di Jakarta, 1 kali belajar di Jinan University Kuangzhou China tahun 2007, dan pernah dipercaya oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah untuk mengawal Kepala Dinas di China tahun 2013 dalam rangaka kerjasama SMK di Jateng dan Sekolah sejenis di China. Dan suatu ketika saya tanya, hal apa yang paling berkesan selama mendapatkan kesempatan untuk belajar lagi hingga ke negri China, dia menjawab, "Ketika saya datang ke Peresmian gedung SMP SMA 3 Bahasa Putera Harapan di Purwokerto di tahun 2015, dunia terasa begitu sempitnya, hingga saya bertemu dan melepas kangen setelah 8 tahun tidak berjumpa,  dengan seorang dosen Jinan University dan beliau masih mengenal  saya. What a small world!" katanya. 

Suhardiyani telah banyak menginspirasi peserta didiknya dan terbukti banyak siswanya yang melanjutkan kuliah di China dan bahkan sudah ada yang menjadi dosen bahasa Mandarin. Mereka mengaku terinspirasi dari gurunya, Menurut testimoni beberapa siswanya, Suha Laoshi, panggilan untuk guru Mandarin, mampu mengajarkan bahasa Mandarin dengan cara yang sangat menarik dan mempunyai cara mendidik para siswanya dengan gayanya yang asyik. Itulah mengapa Suhardiyani begitu dikenang oleh siswanya dan mereka merasa kecewa ketika suatu saat mendengar berita bahwa Suhardiyani tidak lagi mengajar di SMA Negeri tersebut. Suhardiyani harus pindah tugas di Dinas dan bukan lagi menjadi guru bahasa Mandarin di sekolah karena faktor penyesuaian ijazah dengan status kepegawaiannya.  Suhardiyani saat ini menjadi salah seorang staf di Bidang Kebudayaan di Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Banyumas. Dia mengaku sering menangis ketika mengenang betapa dia begitu dekat dengan anak-anak dan mampu menginspirasi para peserta didiknya. Tetapi Suhardiyani mampu bekerja dengan baik di dinas tersebut dan menjadi seorang yang sangat diperhitungkan karena cara kerjanya yang profesional. 

Dalam perjalanan hidup ini dia merasa banyak hal yang tak terduga yang dia alami. Dia sempat mengatakan bahwa, "Menjadi guru bukanlah merupakan impian saya, tetapi justru dengan menjadi guru saya mampu berbagi mimpi dengan siswa-siwaku. Dan setiap pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan passion kita, maka kita akan dapat bekerja dengan penuh totalitas."

#April29WritingChallenge,#inspirasikartini,#kurikulumngumpet


Dua Gadisku Belajar Online Sambil Mengasuh Batita



Pandemi Covid19 yang melanda dunia ini sudah melewati masa satu tahun dan kami sungguh merasakan bermacam-macam penyesuaian baik di bidang pekerjaan maupun di keluarga. 

Banyak cerita tentunya dari berbagai sisi kehidupan baik yang terimbas lansung oleh pandemi ini khususnya bagi mereka yang terpapar virus ini. Bagi masyarakat pada umumnya yang tidak secara langsung terkena dampak pun sangat merasakan betapa mereka harus melakukan banyak perubahan untuk menyesuaikan kondisi ini, diantaranya pola hidup sehat dan bersih tidak berkerumun, dan penyesuaian lain seperti diterapkanya PSBB ataupun PPKM dari pemerintah. Hel ini tentunya telah merubah banyak pola dan tatanan kehidupan.

Begitu pula yang terjadi di keluargaku. Banyak sekali hal baru yang harus dirubah baik kebiasaan maupun hal-hal yang tidak biasa menjadi biasa. Awalnya, kami merasa kewalahan dengan kebijakan pemerintah yang mengharuskan siswa belajar di rumah dengan sistem online. Bagi kami mungkin tidak sekedar harus memenuhi gadjet anak-anak dan pengawasan terhadap belajar anak. Saya percaya anak-anak kami mampu bertanggungjawab dengan tugas-tugas sekolahnya karena mereka sudah memasuki sekolah menengah (SMP dan SMA). Yang kami pikirkan dan harus segera dicari solusinya adalah anak kami yang baru 2 tahun. Saat itu dia berada di full day school atau istilah lainnya tempat penitipan anak dengan tujuan anak bisa mendapatkan pendampingan bersama pengasuh atau gurunya di sekolah tersebut dari pagi hingga sore. Karena kami berdua, saya dan istri harus bekerja hingga sore pula. 

Kami berdiskusi sekeluarga termasuk anak-anak kami. Bagi kami full day school itu merupakan solusi bagi anak kami yang masih 2 tahun tersebut karena dia bisa bermain, mandi, makan, berteman, dan melakukan kegiatan lain yang sudah terprogram di sekolah penitipan tersebut. Namun kebijakan ini telah membuat kami harus berfikir keras tentang bagaimana caranya semua anak-anak kami bisa mendapat haknya secara maksimal.

Di rumah, kami mengadakan rapat kecil dan kami berdua mengusulkan ada seorang yang mengurusi si kecil dari pagi hingga sore hari. Namun usulan itu pun masih terdengar samar bagi anak-anak yang mengerti perasaan orang tuanya. Anak-anak kami tanggap dan mereka mengusulkan pendapat yang di luar dugaan kami. Kedua anak gadis kami yang bersekolah di SMP dan SMA tidak menghendaki adanya pengasuh di rumah karena mereka merasa bahwa keberadaan orang lain malah justru mungkin menambah ketidaknyamanan mereka di rumah. Belum tentu orang tersebut akan bisa bertanggungjawab penuh dengan tugas-tugasnya mengurus si kecil apalagi kalau memang belum berpengalaman. Hal tersebut disampaikan karena beberapa tahun lalu juga pernah mengalami hal serupa. Maka mereka bersikukuh untuk tidak mempekerjakan seorang pengasuh.

Lalu, apa solusinya? Mereka menghendaki bahwa mereka sendirilah yang akan mengasuh si kecil sambil mereka belajar online di rumah. Kami terdiam mendengar usulan mereka dan membayangkan betapa mereka repot sekali mengurusi anak sambil belajar. Rasanya tidak adil bagi kami yang seolah-olah telah melimpahkan tanggungjawab kami kepada anak sendiri.

Tapi kami juga harus menghargai keinginan mereka. Mereka akan belajar untuk melakukan semua itu dengan penuh tanggung jawab. Pasti repot, pasti banyak hal yang tak terduga, bahkan mungkin tugas-tugas sekolah akan banyak yang tertinggal. Tetapi itulah mungkin jalan satu-satunya yang bisa ditempuh untuk saat ini. Kami hanya berdoa dan berharap situasi ini segera berlalu dan si kecil dapat bermain dan bersosialisasi lagi di tempat penitipannya dan anak-anakku yang lain bisa bersekolah dengan baik. 

Seiring berjalannya waktu, banyak sekali cerita sehari-hari yang kadang membuat hati kami tersentuh dan sekaligus bangga melihat betapa mereka melakukan kerjasama yang susah dimengerti oleh pemikiran kami. Bisa dibayangkan ketika mereka dengan sendirinya membagi tugas mereka sendiri. Misal, sang Kakak yang SMA mendapatkan bagian memandikan, mengganti pakaian, membersihkan adik setelah poop, dan menemani ketika mau tidur siang. Kemudian si Adik yang masih SMP bertugas membuat susu botol, membuatkan makanan kecil, dan menyuapi. Tugas-tugas tersebut memang kadang dilakukan bersama-sama ketika salah satu kewalahan karena si kecil meronta atau menangis.

Pernah diceritakan bahwa suatu hari ketika sang Kakak sedang pelajaran melalui zoom dan si kecil harus berada di dekatnya, tiba-tiba si kecil melihat seorang guru dengan memakai hijab sedang memberikan materi pelajaran dan memanggil guru tersebut dengan panggilan "Ibu", sang guru membalasnya dan mengajak berbicara si kecil sedangkan pembelajaran sedang berlangsung. Si kecil mengira bahwa guru tersebut adalah ibunya dan dia merasa sangat senang diajak berbicara di zoom. Sang Kakak tak kuat menahan air matanya yang membendung di kelopak matanya. Mendengar cerita itu kami berdua tak kuasa menahan butiran air mata dan sang Ibu langsung memeluk sang Kakak. 

Masih banyak kisah lain yang sempat mereka ceritakan pada kami. Suatu hari pada saat ulangan yang tentunya dibatasi waktu, tiba-tiba si kecil meminta meraung meminta laptop yang dipakai si Adik. Si Adik kebingungan dan akhirnya menghubungi kami via WA untuk mohon dispensasi ke gurunya dengan permasalahan tersebut. Kami juga telah menginformasikan dan memohon kebijaksanaan kepada wali kelas masing-masing bahwa anak kami tersebut mungkin sering terlambat mengumpulkan tugas atau terganggu saat online meeting. Wali kelas tersebut bukan hanya memberi dispensasi tapi mereka justri memberi motivasi kami bahwa anak kami merupakan anak yang bisa dibanggakan. Mereka tidak hanya belajar mata pelajaran, tetapi ada yang lebih berharga bahwa mereka telah belajar memahami kehidupan yang sebenarnya. Mereka mendapatkan pembelajaran hidup yang mungkin teman lain tidak mendapatkannya. Kami pun bernafas lega dan terus menyemangati kedua anak gadisku tersebut. Teruslah berjuang anak-anakku. Teruslah belajar dan kami yakin kalian akan mendapatkan kesuksesan di masa mendatang dengan berbekal niat baik dan tulus untuk melakukan suatu pekerjaan besar bagi orang tua dan orang lain. Di pundak kalianlah bangsa ini dititipkan. Jadilah wanita-wanita yang kuat seperti Kartini.

#April27WritingChallenge,#inspirasikartini,#kurikulumngumpet

Minggu, 10 Januari 2021

 SEBUAH TEKAD

Masih terngiang kata-kata beliau bapak Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah Bapak Nurhadi Amiyanto sewaktu membuka acara Bimtek Penatausahaan BOS SMA beberapa tahun yang silam (sewaktu masih menjabat). Beliau berpesan pada kita semua terutama para pendidik bahwa masih ada 26 % lulusan SMP di Propinsi Jawa Tengah yang tidak melanjutkan ke SMA/SMK. Lalu kemana mereka? Kita mesti berbuat sesuatu untuk menyelamatkan setidaknya salah satu dari mereka.
Aku jadi teringat sekitar 10 tahun lalu. Ketika kami harus kerepotan menitipkan ke sana kemari anak kami yang ketiga yang waktu itu baru berusia sekitar 4 tahun. Anak ketigaku ini sudah sangat sering pindah tangan pengasuh dari tetangga yang satu ke tetangga yang lain. Kami berfikir untuk mencarikan seseorang yang bisa mendampingi anak kami tersebut di rumah. Lalu kami mencoba meminta tolong semua keluargaku untuk bisa mencarikan orang yang bersedia mengasuh anak terkecilku waktu itu.
Akhirnya kabar baikpun aku peroleh dari keluargaku di desa bahwa ada seorang anak lulusan SMP yang ingin bekerja membantu kami. Kami sangat gembira mendengar berita itu dan keesokan harinya, tanpa berfikir panjang aku langsung melesat menjemput seorang yang katanya baru lulus SMP itu dari desaku kelahiranku.
Dan benar juga, ketika aku sampai di rumahnya, dia memang berminat untuk bekerja sebagai pengasuh anak. ‘Satu permasalahan terselesaikan!’ batinku. Tetapi ada hal yang aku lupa bahwa betapa aku dulu sangat merindukan untuk ingin melanjutkan sekolah di SMA ketika aku harus berhenti satu tahun dan bekerja di Jakarta setelah lulus SMP. Aku benar-benar tidak punya hati nurani dengan mempekerjakan seorang yang harusnya masih duduk di bangku SMA. Aku merasa telah menjadi seorang guru yang kurang memperhatikan hak anak untuk sekolah. Aku hanya mementingkan diri saya sendiri atau lebih tepatnya menyelamatkan diri sendiri.
Aku juga masih teringat pesan sang ayah anak lulusan SMP itu. Sebelum aku membawanya ke rumahku dia berpesan, “Mas guru, saya titip anak saya. Tidak usah dipikirkan berapa gaji anak saya nanti. Asal betah saja di sana gak papa. Dan dia sebenarnya masih ingin belajar.Mas guru pasti bisa membimbingnya untuk terus belajar. ” Begitu pesan seorang ayah dari anaknya yang semata wayang tapi tanpa daya untuk bisa menyekolahkannya ke SMA. Mendengar itu air mataku hampir jatuh dan dalam hati kecilku
Dan benar juga, selama kurang dari satu tahun di rumah kami, anak ini ternyata selalu membuka buku apa saja yang ada di rumahku. Dia suka belajar apapun. Selain mengurus anakku dan mengurus beberapa pekerjaan rumah tangga, dia pun pandai menjadi teman main anak-anakku. Tidak hanya itu, dia juga sekaligus berperan menjadi guru les anak-anakku. Mereka bercengkerama, bernyanyi, bermain, bercerita dan belajar bersama. Kami pun tak melarang bahkan senang ketika dia memanggil kami ayah dan ibu seperti anak-anak kami. Anak-anak kami juga menganggapnya seperti kakaknya sendiri.
Melihat keintimannya dengan anak-anakku dan kami masih ingat pesan ayahnya sewaktu hendak berangkat ke rumahku, istriku berinisiatif untuk menanyakan ke dia kalau dia masih ingin sekolah atau tidak. Dengan malu-malu dia pun menjawab ‘ya’. Segera setelah itu kami mencarikan SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) untuk mencari informasi mengenai Paket C. Setelah cukup mendapatkan informasi dari SKB, kami pun segera mendaftarkannya. Dan berita gembira ini kami sampaikan ke dia dan dia sangat antusias untuk siap belajar di paket C.
Namun karena sesuatu dan lain hal, kami berubah pikiran. Setelah mendapat informasi dari temanku di sekolah, bahwa pendaftar siswa baru untuk lulusan tahun lalu ternyata masih bisa diterima di sekolah negri asal umurnya belum 21 tahun. Mendengar informasi itu, aku langsung berdiskusi dengan sang istri. Dan istriku langsung membatalkan pendaftaran di Paket C yang di SKB dan untuk segera mendaftarkan dia di sekolah formal bahkan di SMA Negeri di mana aku mengajar(SMA Negeri Patikraja). Karena nilainya cukup untuk bisa bersaing dengan calon pendaftar lain, akhirnya diapun lolos seleksi dan diterima di SMA Negri. Kami mengucap syukur Alhamdulillah hingga dia bisa merasakan pendidikan yang dia inginkan.
Kabar ini pun langsung kami sampaikan pada keluarganya di desa. Sang ayah merasa sangat senang mendengar berita itu. Dan kami mengambil komitmen bersama untuk menyesuaikan gajinya dengan biaya sekolahnya artinya kami jujur menyampaikan ke dia bahwa kami sudah tidak sanggup menggaji dia lagi karena biaya sekolah yang harus aku keluarkan lebih besar dari gaji yang seharusnya dia terima sebagai pengasuh anakku lagi. Di sini kami pun belum berfikir panjang bagaimana anak kami yang masih butuh pendamping selama kami bekerja dan dia sekolah. Yang kami pikirkan waktu itu adalah bagaimana si anak lulusan SMP ini bisa sekolah di SMA. Perkara lain-lain kami pikirkan belakangan.
Dengan segenap kemampuan dan kerepotan yang luar biasa, akhirnya kami berhasil mengatasi segala permasalahan dan kesulitan yang akan muncul berikutnya. Biaya sekolah tentunya harus aku pikirkan dikala anak pertamaku juga harus masuk ke SMP. Dan kembali permasalahan pengasuh si kecil menjadi permasalahan yang timbul dan harus dicari solusinya. Tetapi kami sudah berniat untuk tetap menyekolahkan dia sampai lulus SMA. Ternyata hanya Tuhan yang bisa menolong tekad kami. Dengan segala keprihatinan dan kondisiku yang masih berstatus guru honorer waktu itu, semua bisa tertolong. Dari pihak sekolah ternyata banyak membantu seperti diajukannya dia untuk mendapatkan beasiswa dan karena keaktifannya di kegiatan kesiswaan, si anak desa ini pun banyak mendapatkan keringanan biaya sekolah yang tentunya sangat menolong kami. Satu anak telah tertolong hingga bisa meluluskan SMA hanya dengan sebuah tekad dan niat baik. Ternyata benar. Ada Tuhan di sana yang selalu melihat umatnya yang berniat baik.